Sabtu, 21 Juni 2025

Teologi Nasi Padang: Melihat Nasi Padang Sebagai Berkat Tuhan dari Perspektif Teologi Kristen

 

oleh: Fregata

"Hanya nasi Padang yang mengerti perasaanku"

- Unknown -

"AKU MAU NASI PADANG!!"

- Sinetron Para Pencari Tuhan, Jilid 11, Episode 04 (2007)-

 

Keterangan: Nasi Padang dari RM Citra Bundo Cikini, Jakarta Pusat
(Dokumentasi Pribadi Penulis, 9 Maret 2025)

1. Pendahuluan

        Patrick Henry dalam orasinya pernah mengatakan: "Give me liberty or give me death!" Berikan aku kebebasan atau berikan aku kematian.[1] Tapi pernyataan dari Henry masih terlalu keras untuk tulisan ini, tapi ada kata give me atau ”berikan aku” yang perlu kita pertahankan. Hmm, bagaimana dengan pernyataan Geef Mij Maar Nasi Goreng (berikan aku nasi goreng) dari Nona Belanda bernama Wieteke van Dort? Rasanya ini lebih cocok.[2] Beliau kangen dengan nasi goreng Indonesia dan aku juga kangen dengan nasi Padang. Nah, ucapan ini lebih pas, hanya jenis makanannya sajalah yang berbeda. Kali ini aku mau nasi Padang, berikan aku nasi Padang! Iwan Fals dalam salah satunya pernah berkata: ”Penguasa, penguasa, berilah hambamu uang!” Tapi kalau aku tidak terlalu merepotkan, cukup berikan aku nasi Padang! Berikanlah kepadaku nasi Padang, berikanlah nasi Padang itu kepada kami. Nasi Padang itu enak, bergizi, dan mengenyangkan. Memang kalorinya tinggi, tapi cocok untuk kami yang bekerja terus menerus.

            Tulisan dan penelitian gabut ini meneliti bagaimana nasi Padang yang sangat enak itu bisa dipahami dalam perspektif Teologi Kristen. Teologi apakah yang dimaksud tepatnya? Dari sini saya memakai teologi pemeliharaan. Dituliskan oleh Armada Riyanto, Allah memelihara semua ciptaan-Nya. Dia tidak meninggalkan kita begitu saja, tapi Ia sungguh-sungguh memelihara kita sebagai Allah yang adil dan pengasih.[3] Jadi dalam tulisan ini, kita melihat nasi Padang itu sebagai bentuk pemeliharaan Allah kepada kita. Allah memberikan kita kesempatan dan kesehatan untuk bekerja, memiliki penghasilan, dan menggunakan penghasilan itu untuk membeli nasi Padang yang mengenyangkan kita. Lagipula kalau kata Rasul Paulus, orang yang tidak bekerja itu jangan makan. Berarti, orang yang bekerja itu harus makan! (2 Tes. 3:10). Tapi hati-hati, jangan terlalu fokus dengan persoalan duniawi, apalagi persoalan perut. Lagi pula, kita ini mau menjadi hamba Tuhan, atau mau jadi hamba perut? Makanlah secukupnya, termasuk nasi Padang, biarpun dia sangatlah enak. Manusia memang perlu makan, tapi itu bukanlah tujuan kehidupan. Tetaplah berfokus pada Kerajaan Allah (Luk. 12: 22-34). Jangan jadikan diri kita diperbudak oleh makanan, ingatlah akan pemeliharaan Allah.[4]

            Tapi kembali lagi ke nasi Padang, intinya aku hendak membahas apresiasiku kepada makanan yang sangat fleksibel dan enak ini. Tuhan ada dimana-mana karena sifat-Nya yang omnipresent itu. Dia ada di semua tempat pada saat yang sama. Allah ada dimanapun kita berada, dan dimanapun kita tidak berada.[5] Rasanya nasi Padang pun begitu juga. Nasi Padang itu ada ketika aku berada di Jakarta,[6] di Pematangsiantar,[7] Berastagi, Parapat, di semua tempat nasi Padang itu ada. Nasi Padang itu seolah-olah punya ”omnipresent”-nya tersendiri karena dia hadir di hampir semua tempat di Indonesia. Tiap kali aku makan nasi Padang, rasanya aku sangat-sangat bersyukur akan pemeliharaan Allah. Nasi Padang mendekatkan aku kepada Tuhan, karena betapa nikmatnya nasi Padang itu. Kepada Allah Tritunggal Maha Kudus, terima kasih telah memberikan hikmat kepada manusia untuk menciptakan nasi Padang, itulah berkat dari-Mu. Karena nasi Padang, aku jadi semakin rajin ke gereja. Tapi sebelum berangkat ke pembahasan, ada satu hal penting untuk aku klarifikasi. Aku bukan orang Padang, dan tulisan ini tidak akan membahas mendalam tentang sejarah nasi Padang. Aku juga tidak familiar dengan orang Padang dan kebudayaannya. Yang aku tahu hanyalah kalau makanan mereka itu luar biasa enak. Baiklah, kita berangkat kepada pembahasan tulisan ini.

2. Nasi Padang: Mengingatkan Diri Akan Pemeliharaan Allah

            Tuhan Yesus memberi makan lima ribu orang hanya dengan lima roti dan dua ikan (Mat. 14:13-21, Mrk. 6:35-44, Luk. 9:12-17, dan Yoh. 6:1-15). Hal ini menunjukkan bahwa Yesus, Tuhan kita, adalah Sang Pencipta dan juga pemelihara. Ia menciptakan dari apa yang tidak ada menjadi ada, menciptakan dari suatu kekosongan (tohu wavohu). Begitu banyak berkat Tuhan ini, sampai tersisa sebanyak 12 keranjang yang bisa dibawa pulang (soal makanan yang dibawa pulang akan dibahas pada bagian berikutnya). Hebatnya, Yesus memberikan kehidupan kekal setelah kematian, dan Dia juga memberi makan orang percaya pada masa kehidupan di dunia. Betapa hebatnya Tuhan kita itu! Kita diurus tidak hanya setelah kita meninggal dunia, tetapi di dunia ini kita juga dirawat oleh-Nya.[8] Maka benarlah Doa Bapa Kami itu. Berikanlah makanan kami yang secukupnya. Kalau dilihat di dalam bahasa Inggris: give us our daily bread.[9] Bread artinya adalah “roti.” Hanya saja, makanan pokok di Indonesia itu bukan roti, dan orang Indonesia juga tidak kenyang kalau cuma makan roti dan tidak makan nasi. Oleh karena itu, bersyukurlah kita bahwa dalam “makanan yang secukupnya” itu sudah termasuk nasi Padang di dalamnya. Maka kalau dalam bahasa Inggris, mungkin saja dibuat istilah give us our daily Nasi Padang. Istilah Geef Mij Maar Nasi Goreng juga bisa diganti jadi Geef Mij Maar Nasi Padang. Tuhan memberi kita berkat lima roti dan dua ikan. Tuhan juga memberi kita berkat dalam wujud nasi Padang. Terpujilah Tuhan karena berkat dari-Nya itu yang melimpah, memenuhi dan mencukupi semua yang kita butuhkan.

            Bahkan wujud pemeliharaan Allah ada di dalam wujud sejarah Nasi Padang itu sendiri. Berdasarkan artikel di BBC Indonesia yang ditulis oleh Pijar Anugerah, ada sejarah yang pedih dibalik Nasi Padang ini. Perlu diketahui bahwa nasi Padang adalah sebutan bagi makanan khas Minangkabau, yang dijual dan kemudian dibeli di restoran khusus yang biasanya dimiliki dan dikelola oleh orang Minangkabau. Restoran seperti ini dikenal dengan nama Rumah Makan Padang. Dituliskan oleh Anugerah (saya mengutip secara verbatim):

Penyebutan "Padang" adalah bagian dari perubahan identitas yang dilakukan oleh orang-orang Minangkabau saat itu, menyusul pemberontakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) yang berlokasi di Sumatera Barat. Setelah pemberontakan PRRI resmi berakhir pada 1961, pemerintah pusat Republik Indonesia berusaha menghabisi semua elemen PRRI. Akibatnya, terjadi suatu eksodus besar-besaran suku Minangkabau ke daerah lain, termasuk ke Pulau Jawa. "Orang-orang Padang setelah [peristiwa] PRRI disuruh melapor, disuruh ini, dibilang orang kalah, dihina-hina, jadi tahanan di daerah sendiri. Akhirnya pada keluar mereka itu," dikatakan oleh Profesor Gusti Asnan, sejarawan Minangkabau di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas.[10]

            Bahkan ketika orang-orang Minangkabau itu sedang diusir dari tempatnya, mereka justru tidak langsung hancur. Mereka justru sukses menyebarkan makanan Nusantara itu ke hampir semua daerah di Indonesia. Bukankah di mana saja, Tuhan itu ada dan hadir? Berarti, Tuhan juga hadir di setiap nasi Padang yang dimasak dan dimakan di Indonesia ini. Jadi sekalipun terjadi suatu peristiwa eksodus dimana orang-orang Minangkabau itu diusir dari tanahnya, tetap Tuhan itu hadir. Di setiap kelezatan dan kenikmatan nasi Padang, Tuhan itu hadir dan menyertai. Maka benarlah Yosua 1:9 itu bagi orang Kristen, yang isinya adalah: “Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu: kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah kecut dan tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke mana pun engkau pergi.” Tuhan yang baik itu, memelihara kita semua kemanapun kita pergi. Dia bersama dengan kita senantiasa, sebab itulah janji dari-Nya yang pasti Ia tepati pada waktu yang Dia tentukan.[11] Kemanapun dan dimanapun kita menyantap nasi Padang, Dia menyertai kita senantiasa.

3. Kasih Terselubung di dalam Nasi Padang

            Tahukah anda, bahwa nasi Padang itu mengandung kasih yang terselubung? Kalau tidak percaya, coba pergi ke Restoran Padang dan bawa timbangan makanan. Pesan satu porsi untuk disantap di tempat, dan satu lagi untuk dibawa pulang. Timbanglah porsi untuk disantap ditempat (tentunya dengan mengurangi berat piring, untuk mendapatkan berat makanannya saja) dan kemudian porsi makanan yang dibungkus. Mana yang lebih berat dan lebih banyak porsinya, makanan yang dimakan di tempat atau makanan yang dibungkus? Kalau anda memang betul-betul familiar dengan nasi Padang, berarti anda sudah tahu jawabannya. Mana yang paling berat? Tentu saja porsi yang dibungkus! Tapi jangan lihat secara sekilas saja, ada kasih yang terselubung di sini. Dituliskan oleh Katrin Vee, alasan mengapa nasi padang yang dibungkus itu selalu lebih banyak porsinya ketimbang yang dimakan di tempat adalah, supaya nasi tersebut bisa ikut dimakan bersama oleh keluarga dan orang-orang yang ada di rumah. Jadi hanya dengan pesanan satu porsi nasi padang yang dibungkus, bisa saja itu untuk memberi makan dua hingga tiga orang.[12]

            Firman Tuhan melalui Rasul Paulus mengatakan bahwa: ”Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya” (Rom. 12:20). Teks ini mengatakan bahwa bahkan kepada musuh sekalipun kita harus tetap mengasihi. Ketika kita punya orang yang memusuhi kita,[13] maka sebagai orang Kristen kita perlu memberi mereka makanan dan minuman. Maka kita mesti memberikan nasi Padang dan es teh tawar kepada orang-orang yang memusuhi dan mengkhianati kita, kita berikan mereka makanan dan minuman. Tapi janganlah karena mereka itu musuh, justru kita kasih nasi Padang dengan Bon Cabe level 50 Max End yang bisa buat orang yang tidak tahan pedas jadi terkena diare. Itu namanya memberi tapi tidak dengan ikhlas, Tuhan tidak suka orang yang memberi tapi tidak Ikhlas. Dia menyukai orang-orang yang memberi dengan sukarela dan sukacita (2 Kor. 9:7).

            Jadi ada dua perspektif dalam memandang hubungan antara nasi Padang dan kasih. Perspektif yang pertama, kasih dalam sebungkus nasi Padang itu ada pada pertimbangan untuk memberi makan orang lain. Porsinya dilebihkan supaya orang yang dirumah juga bisa ikut makan dan menikmati. Sebagaimana dikatakan oleh bunda Teresa: kalau anda tidak bisa memberi makan seratus orang, maka berikanlah makanan kepada satu orang (lih. Mat. 25:35).[14] Perspektif yang kedua, yang juga lebih ekstrim, adalah memberi makanan bahkan kepada seteru atau musuh. Carilah kedamaian, bukan pertengkaran. Carilah resolusi konflik yang dilakukan melalui komunikasi yang harmonis, bukan dengan amarah. Lagipula, balas dendam itu bukanlah hak atau tugas manusia. Ia adalah hak prerogatif Allah (Rom. 12:19). Firman Tuhan dalam perkataan ψώμιζε αὐτόν (psomitze auton) di Roma 12:20 ini sudah sangat jelas, berilah makanan kepada musuh kita apabila ia itu sedang kelaparan (feed him).[15] Kita dipanggil untuk mengasihi sesama, jadi berikanlah nasi Padang kepada sesama kita. Alangkah baiknya ketika dua orang yang sebelumnya bermusuhan, kini menjadi bersahabat lagi karena nasi Padang. Itulah kasih Allah yang besar itu, yang terdapat di dunia. Kasih itu ada bahkan di dalam hal-hal yang kecil sekalipun, bahkan di dalam nasi Padang.

4. Nasi Padang dan Iman Kristen

            Dalam iman Kristen, kita perlu untuk mengasihi orang yang lebih membutuhkan. Memang benar bahwa Allah itu memelihara kita. Tetapi kita juga perlu untuk meneladani kasih Yesus Kristus dengan memberikan sedekah, yakni dengan memberikan makanan kepada orang miskin, janda, anak yatim, dan mereka yang membutuhkan. Dari tindakan inilah iman Kristen itu terpancarkan, yakni dari orang-orang yang sudah menerima keselamatan dari Kristus. Bagaimanakah cara untuk menunjukkan kasih Kristus yang sudah kita terima ini kepada orang lain? Tentu salah satu caranya yang signifikan adalah memberi makan kepada orang yang membutuhkan! Bahkan, dengan makan dan duduk bersama dengan orang miskin, kita sudah memuliakan Kristus.[16] Dituliskan oleh Dietrich Bonhoeffer, to give bread to the hungry is preparing way for the coming of grace. Dengan memberi makan kepada orang yang lapar, kita mempersiapkan jalan untuk menerima kasih karunia Allah.[17] Kasih karunia atau grace ini tentunya adalah kasih karunia yang asli, yang memang membutuhkan komitmen dalam kehidupan manusia. Sebab hanya di dalam grace yang asli inilah Kristus itu hadir.[18] Dalam kebaikan yang sederhana ini, kita bisa menghampiri Kristus yang pengasih itu. Kita meniru teladan-Nya, juga mengikuti ajaran-Nya. Sia-sialah iman kita ini kalau kita punya berkat tetapi tidak mau membaginya. Jadi kalau ada orang yang butuh makan di sekitar kita, tidak ada salahnya kita traktir mereka dengan nasi Padang. Nasi Padang itu enak, mengeyangkan, dan juga adalah berkat dari Tuhan. Mari bagikan nasi Padang kepada sesama sebagai wujud dari iman Kristen kita.

5. Kesimpulan

            Kita mesti berulang-ulang kali mengucap syukur kepada Tuhan kita atas kebaikan-Nya. Kita masih diberikan kesempatan untuk menjalani hidup. Dalam kenikmatan nasi Padang, kita mengenal perpaduan antara rasa dari ciptaan manusia dan kasih yang bersumber kepada Allah. Marilah kita menyantap nasi Padang dan menikmatinya, namun tetap dengan secukupnya. Berikanlah nasi Padang itu kepada teman-teman terdekat kita, bahkan kepada musuh kita sekalipun. Nasi padang juga adalah sarana untuk membawakan kedamaian, karena dari porsinya yang banyak dan lezat itu, orang-orang bisa kenyang sampai lupa apa yang mau diributkan atau dipermasalahkan. Suami istri hendaknya makan nasi Padang kalau mereka bertengkar. Saudara saudari juga, santaplah nasi padang dulu kalau kalian mau berebut warisan. Intinya adalah, nasi Padang itu sangatlah baik. Ia adalah bagian dari kasih Kristus. Kristuslah yang memberkati kita. Hidup nasi Padang! Tapi yang jauh lebih penting, hiduplah iman kita kepada Allah Bapa, Allah Putera, dan Allah Roh Kudus, amen!



[1] Alex David, Examining Give Me Liberty or Give Me Death by Patrick Henry (New York: Enslow Publishing, 2021), 55-56.

[2] https://id.wikipedia.org/wiki/Geef_Mij_Maar_Nasi_Goreng, diakses pada tanggal 21 Juni 2025. Lih. Fadly Rahman, Rijsttafel: Budaya Kuliner di Indonesia masa Kolonial 1870 - 1942 (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2016), 88-89.

[3] Armada Riyanto, Teologi Publik: Sayap Metodologi dan Praksis (Yogyakarta: PT Kanisius, 2021), 279.

[4] Dewi Sri Sinaga, Hamba Tuhan atau Hamba Perut? (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2018), 6.

[5] Anna Marmodoro, Damiano Migliori, dan Ben Page, “Introduction” dalam The Oxford Handbook of Omnipresence, Ed. Anna Marmodoro & Damiano Migliori (Oxford: Oxford University Press, 2025), 2.

[6] Teh tawar hangat, nasi Padang dengan lauk paru-paru sapi goreng. Makannya di Citra Bundo Cikini, Jakarta Pusat. Ahh enaknyaa!!

[7] Rumah Makan Padang Panorama di Pematangsiantar. Lauknya ayam goreng bumbu, sate ayam tiga tusuk, pake kerupuk kentang. Ini juga enak woii.

[8] Craig S. Farmer, The Gospel of John in the Sixteenth Century: The Johannine Exegesis of Wolfgang Musculus (Oxford: Oxford University Press, 1997), 72.

[9] Silahkan anda lihat secara langsung, Doa Bapa Kami atau The Lord’s Prayer dalam bahasa Inggris di sini: https://www.biblegateway.com/passage/?search=Matthew%206%3A9-13&version=KJV

[10] Pijar Anugerah, “Nasi Padang: Sejarah, kalori, dan semua hal yang perlu Anda ketahui,” (29 November 2019), https://www.bbc.com/indonesia/majalah-50541428, diakses pada tanggal 21 Juni 2025.   

[11] Randy Frazee, The Heart of the Story: Discover Your Life Within the Grand Epic of God's Story (Grand Rapids, Michigan: Zondervan, 2017), 87-89.

[12] Katrin Vee, Rendang dan Rempah: Sejarah dan Tradisi Nasi Padang (Yogyakarta: Penerbit ANDI, 2023), 4.

[13] Tentunya yang saya maksud dan juga saya harapkan, bahwa alasan mengapa anda dimusuhi adalah karena anda itu benar atau anda adalah orang yang benar. Kalau anda dimusuhi karena anda menyakiti orang lain atau karena anda berbuat dosa, maka bertobatlah.

[14] Gwen Costello, Spiritual Gems from Mother Teresa (New London: Twenty-Third, 2008), 13.

[15] John Piper, 'Love Your Enemies': Jesus' Love Command in the Synoptic Gospels and in the Early Christian Paraenesis (Cambridge: Cambridge University Press, 1979), 129.

[16] Dana Robinson, Food, Virtue, and the Shaping of Early Christianity (Cambridge: Cambridge University Press, 2020), 101.

[17] Keith L. Johnson & Timothy Larsen (Ed), Bonhoeffer, Christ and Culture (Downers Grove, IVP Academic, 2013), 88.

[18] Jan Christian Wismar Saragih, “Costly Grace According to Dietrich Bonhoeffer: Why does it matter today?” Kamasean: Jurnal Teologi Kristen 6, no. 1 (2025): 22-23.

Teologi Nasi Padang: Melihat Nasi Padang Sebagai Berkat Tuhan dari Perspektif Teologi Kristen

  oleh: Fregata "Hanya nasi Padang yang mengerti perasaanku" - Unknown - "AKU MAU NASI PADANG!!" - Sinetron Para...