Sabtu, 21 Juni 2025

Teologi Nasi Padang: Melihat Nasi Padang Sebagai Berkat Tuhan dari Perspektif Teologi Kristen

 

oleh: Fregata

"Hanya nasi Padang yang mengerti perasaanku"

- Unknown -

"AKU MAU NASI PADANG!!"

- Sinetron Para Pencari Tuhan, Jilid 11, Episode 04 (2007)-

 

Keterangan: Nasi Padang dari RM Citra Bundo Cikini, Jakarta Pusat
(Dokumentasi Pribadi Penulis, 9 Maret 2025)

1. Pendahuluan

        Patrick Henry dalam orasinya pernah mengatakan: "Give me liberty or give me death!" Berikan aku kebebasan atau berikan aku kematian.[1] Tapi pernyataan dari Henry masih terlalu keras untuk tulisan ini, tapi ada kata give me atau ”berikan aku” yang perlu kita pertahankan. Hmm, bagaimana dengan pernyataan Geef Mij Maar Nasi Goreng (berikan aku nasi goreng) dari Nona Belanda bernama Wieteke van Dort? Rasanya ini lebih cocok.[2] Beliau kangen dengan nasi goreng Indonesia dan aku juga kangen dengan nasi Padang. Nah, ucapan ini lebih pas, hanya jenis makanannya sajalah yang berbeda. Kali ini aku mau nasi Padang, berikan aku nasi Padang! Iwan Fals dalam salah satunya pernah berkata: ”Penguasa, penguasa, berilah hambamu uang!” Tapi kalau aku tidak terlalu merepotkan, cukup berikan aku nasi Padang! Berikanlah kepadaku nasi Padang, berikanlah nasi Padang itu kepada kami. Nasi Padang itu enak, bergizi, dan mengenyangkan. Memang kalorinya tinggi, tapi cocok untuk kami yang bekerja terus menerus.

            Tulisan dan penelitian gabut ini meneliti bagaimana nasi Padang yang sangat enak itu bisa dipahami dalam perspektif Teologi Kristen. Teologi apakah yang dimaksud tepatnya? Dari sini saya memakai teologi pemeliharaan. Dituliskan oleh Armada Riyanto, Allah memelihara semua ciptaan-Nya. Dia tidak meninggalkan kita begitu saja, tapi Ia sungguh-sungguh memelihara kita sebagai Allah yang adil dan pengasih.[3] Jadi dalam tulisan ini, kita melihat nasi Padang itu sebagai bentuk pemeliharaan Allah kepada kita. Allah memberikan kita kesempatan dan kesehatan untuk bekerja, memiliki penghasilan, dan menggunakan penghasilan itu untuk membeli nasi Padang yang mengenyangkan kita. Lagipula kalau kata Rasul Paulus, orang yang tidak bekerja itu jangan makan. Berarti, orang yang bekerja itu harus makan! (2 Tes. 3:10). Tapi hati-hati, jangan terlalu fokus dengan persoalan duniawi, apalagi persoalan perut. Lagi pula, kita ini mau menjadi hamba Tuhan, atau mau jadi hamba perut? Makanlah secukupnya, termasuk nasi Padang, biarpun dia sangatlah enak. Manusia memang perlu makan, tapi itu bukanlah tujuan kehidupan. Tetaplah berfokus pada Kerajaan Allah (Luk. 12: 22-34). Jangan jadikan diri kita diperbudak oleh makanan, ingatlah akan pemeliharaan Allah.[4]

            Tapi kembali lagi ke nasi Padang, intinya aku hendak membahas apresiasiku kepada makanan yang sangat fleksibel dan enak ini. Tuhan ada dimana-mana karena sifat-Nya yang omnipresent itu. Dia ada di semua tempat pada saat yang sama. Allah ada dimanapun kita berada, dan dimanapun kita tidak berada.[5] Rasanya nasi Padang pun begitu juga. Nasi Padang itu ada ketika aku berada di Jakarta,[6] di Pematangsiantar,[7] Berastagi, Parapat, di semua tempat nasi Padang itu ada. Nasi Padang itu seolah-olah punya ”omnipresent”-nya tersendiri karena dia hadir di hampir semua tempat di Indonesia. Tiap kali aku makan nasi Padang, rasanya aku sangat-sangat bersyukur akan pemeliharaan Allah. Nasi Padang mendekatkan aku kepada Tuhan, karena betapa nikmatnya nasi Padang itu. Kepada Allah Tritunggal Maha Kudus, terima kasih telah memberikan hikmat kepada manusia untuk menciptakan nasi Padang, itulah berkat dari-Mu. Karena nasi Padang, aku jadi semakin rajin ke gereja. Tapi sebelum berangkat ke pembahasan, ada satu hal penting untuk aku klarifikasi. Aku bukan orang Padang, dan tulisan ini tidak akan membahas mendalam tentang sejarah nasi Padang. Aku juga tidak familiar dengan orang Padang dan kebudayaannya. Yang aku tahu hanyalah kalau makanan mereka itu luar biasa enak. Baiklah, kita berangkat kepada pembahasan tulisan ini.

2. Nasi Padang: Mengingatkan Diri Akan Pemeliharaan Allah

            Tuhan Yesus memberi makan lima ribu orang hanya dengan lima roti dan dua ikan (Mat. 14:13-21, Mrk. 6:35-44, Luk. 9:12-17, dan Yoh. 6:1-15). Hal ini menunjukkan bahwa Yesus, Tuhan kita, adalah Sang Pencipta dan juga pemelihara. Ia menciptakan dari apa yang tidak ada menjadi ada, menciptakan dari suatu kekosongan (tohu wavohu). Begitu banyak berkat Tuhan ini, sampai tersisa sebanyak 12 keranjang yang bisa dibawa pulang (soal makanan yang dibawa pulang akan dibahas pada bagian berikutnya). Hebatnya, Yesus memberikan kehidupan kekal setelah kematian, dan Dia juga memberi makan orang percaya pada masa kehidupan di dunia. Betapa hebatnya Tuhan kita itu! Kita diurus tidak hanya setelah kita meninggal dunia, tetapi di dunia ini kita juga dirawat oleh-Nya.[8] Maka benarlah Doa Bapa Kami itu. Berikanlah makanan kami yang secukupnya. Kalau dilihat di dalam bahasa Inggris: give us our daily bread.[9] Bread artinya adalah “roti.” Hanya saja, makanan pokok di Indonesia itu bukan roti, dan orang Indonesia juga tidak kenyang kalau cuma makan roti dan tidak makan nasi. Oleh karena itu, bersyukurlah kita bahwa dalam “makanan yang secukupnya” itu sudah termasuk nasi Padang di dalamnya. Maka kalau dalam bahasa Inggris, mungkin saja dibuat istilah give us our daily Nasi Padang. Istilah Geef Mij Maar Nasi Goreng juga bisa diganti jadi Geef Mij Maar Nasi Padang. Tuhan memberi kita berkat lima roti dan dua ikan. Tuhan juga memberi kita berkat dalam wujud nasi Padang. Terpujilah Tuhan karena berkat dari-Nya itu yang melimpah, memenuhi dan mencukupi semua yang kita butuhkan.

            Bahkan wujud pemeliharaan Allah ada di dalam wujud sejarah Nasi Padang itu sendiri. Berdasarkan artikel di BBC Indonesia yang ditulis oleh Pijar Anugerah, ada sejarah yang pedih dibalik Nasi Padang ini. Perlu diketahui bahwa nasi Padang adalah sebutan bagi makanan khas Minangkabau, yang dijual dan kemudian dibeli di restoran khusus yang biasanya dimiliki dan dikelola oleh orang Minangkabau. Restoran seperti ini dikenal dengan nama Rumah Makan Padang. Dituliskan oleh Anugerah (saya mengutip secara verbatim):

Penyebutan "Padang" adalah bagian dari perubahan identitas yang dilakukan oleh orang-orang Minangkabau saat itu, menyusul pemberontakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) yang berlokasi di Sumatera Barat. Setelah pemberontakan PRRI resmi berakhir pada 1961, pemerintah pusat Republik Indonesia berusaha menghabisi semua elemen PRRI. Akibatnya, terjadi suatu eksodus besar-besaran suku Minangkabau ke daerah lain, termasuk ke Pulau Jawa. "Orang-orang Padang setelah [peristiwa] PRRI disuruh melapor, disuruh ini, dibilang orang kalah, dihina-hina, jadi tahanan di daerah sendiri. Akhirnya pada keluar mereka itu," dikatakan oleh Profesor Gusti Asnan, sejarawan Minangkabau di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas.[10]

            Bahkan ketika orang-orang Minangkabau itu sedang diusir dari tempatnya, mereka justru tidak langsung hancur. Mereka justru sukses menyebarkan makanan Nusantara itu ke hampir semua daerah di Indonesia. Bukankah di mana saja, Tuhan itu ada dan hadir? Berarti, Tuhan juga hadir di setiap nasi Padang yang dimasak dan dimakan di Indonesia ini. Jadi sekalipun terjadi suatu peristiwa eksodus dimana orang-orang Minangkabau itu diusir dari tanahnya, tetap Tuhan itu hadir. Di setiap kelezatan dan kenikmatan nasi Padang, Tuhan itu hadir dan menyertai. Maka benarlah Yosua 1:9 itu bagi orang Kristen, yang isinya adalah: “Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu: kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah kecut dan tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke mana pun engkau pergi.” Tuhan yang baik itu, memelihara kita semua kemanapun kita pergi. Dia bersama dengan kita senantiasa, sebab itulah janji dari-Nya yang pasti Ia tepati pada waktu yang Dia tentukan.[11] Kemanapun dan dimanapun kita menyantap nasi Padang, Dia menyertai kita senantiasa.

3. Kasih Terselubung di dalam Nasi Padang

            Tahukah anda, bahwa nasi Padang itu mengandung kasih yang terselubung? Kalau tidak percaya, coba pergi ke Restoran Padang dan bawa timbangan makanan. Pesan satu porsi untuk disantap di tempat, dan satu lagi untuk dibawa pulang. Timbanglah porsi untuk disantap ditempat (tentunya dengan mengurangi berat piring, untuk mendapatkan berat makanannya saja) dan kemudian porsi makanan yang dibungkus. Mana yang lebih berat dan lebih banyak porsinya, makanan yang dimakan di tempat atau makanan yang dibungkus? Kalau anda memang betul-betul familiar dengan nasi Padang, berarti anda sudah tahu jawabannya. Mana yang paling berat? Tentu saja porsi yang dibungkus! Tapi jangan lihat secara sekilas saja, ada kasih yang terselubung di sini. Dituliskan oleh Katrin Vee, alasan mengapa nasi padang yang dibungkus itu selalu lebih banyak porsinya ketimbang yang dimakan di tempat adalah, supaya nasi tersebut bisa ikut dimakan bersama oleh keluarga dan orang-orang yang ada di rumah. Jadi hanya dengan pesanan satu porsi nasi padang yang dibungkus, bisa saja itu untuk memberi makan dua hingga tiga orang.[12]

            Firman Tuhan melalui Rasul Paulus mengatakan bahwa: ”Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya” (Rom. 12:20). Teks ini mengatakan bahwa bahkan kepada musuh sekalipun kita harus tetap mengasihi. Ketika kita punya orang yang memusuhi kita,[13] maka sebagai orang Kristen kita perlu memberi mereka makanan dan minuman. Maka kita mesti memberikan nasi Padang dan es teh tawar kepada orang-orang yang memusuhi dan mengkhianati kita, kita berikan mereka makanan dan minuman. Tapi janganlah karena mereka itu musuh, justru kita kasih nasi Padang dengan Bon Cabe level 50 Max End yang bisa buat orang yang tidak tahan pedas jadi terkena diare. Itu namanya memberi tapi tidak dengan ikhlas, Tuhan tidak suka orang yang memberi tapi tidak Ikhlas. Dia menyukai orang-orang yang memberi dengan sukarela dan sukacita (2 Kor. 9:7).

            Jadi ada dua perspektif dalam memandang hubungan antara nasi Padang dan kasih. Perspektif yang pertama, kasih dalam sebungkus nasi Padang itu ada pada pertimbangan untuk memberi makan orang lain. Porsinya dilebihkan supaya orang yang dirumah juga bisa ikut makan dan menikmati. Sebagaimana dikatakan oleh bunda Teresa: kalau anda tidak bisa memberi makan seratus orang, maka berikanlah makanan kepada satu orang (lih. Mat. 25:35).[14] Perspektif yang kedua, yang juga lebih ekstrim, adalah memberi makanan bahkan kepada seteru atau musuh. Carilah kedamaian, bukan pertengkaran. Carilah resolusi konflik yang dilakukan melalui komunikasi yang harmonis, bukan dengan amarah. Lagipula, balas dendam itu bukanlah hak atau tugas manusia. Ia adalah hak prerogatif Allah (Rom. 12:19). Firman Tuhan dalam perkataan ψώμιζε αὐτόν (psomitze auton) di Roma 12:20 ini sudah sangat jelas, berilah makanan kepada musuh kita apabila ia itu sedang kelaparan (feed him).[15] Kita dipanggil untuk mengasihi sesama, jadi berikanlah nasi Padang kepada sesama kita. Alangkah baiknya ketika dua orang yang sebelumnya bermusuhan, kini menjadi bersahabat lagi karena nasi Padang. Itulah kasih Allah yang besar itu, yang terdapat di dunia. Kasih itu ada bahkan di dalam hal-hal yang kecil sekalipun, bahkan di dalam nasi Padang.

4. Nasi Padang dan Iman Kristen

            Dalam iman Kristen, kita perlu untuk mengasihi orang yang lebih membutuhkan. Memang benar bahwa Allah itu memelihara kita. Tetapi kita juga perlu untuk meneladani kasih Yesus Kristus dengan memberikan sedekah, yakni dengan memberikan makanan kepada orang miskin, janda, anak yatim, dan mereka yang membutuhkan. Dari tindakan inilah iman Kristen itu terpancarkan, yakni dari orang-orang yang sudah menerima keselamatan dari Kristus. Bagaimanakah cara untuk menunjukkan kasih Kristus yang sudah kita terima ini kepada orang lain? Tentu salah satu caranya yang signifikan adalah memberi makan kepada orang yang membutuhkan! Bahkan, dengan makan dan duduk bersama dengan orang miskin, kita sudah memuliakan Kristus.[16] Dituliskan oleh Dietrich Bonhoeffer, to give bread to the hungry is preparing way for the coming of grace. Dengan memberi makan kepada orang yang lapar, kita mempersiapkan jalan untuk menerima kasih karunia Allah.[17] Kasih karunia atau grace ini tentunya adalah kasih karunia yang asli, yang memang membutuhkan komitmen dalam kehidupan manusia. Sebab hanya di dalam grace yang asli inilah Kristus itu hadir.[18] Dalam kebaikan yang sederhana ini, kita bisa menghampiri Kristus yang pengasih itu. Kita meniru teladan-Nya, juga mengikuti ajaran-Nya. Sia-sialah iman kita ini kalau kita punya berkat tetapi tidak mau membaginya. Jadi kalau ada orang yang butuh makan di sekitar kita, tidak ada salahnya kita traktir mereka dengan nasi Padang. Nasi Padang itu enak, mengeyangkan, dan juga adalah berkat dari Tuhan. Mari bagikan nasi Padang kepada sesama sebagai wujud dari iman Kristen kita.

5. Kesimpulan

            Kita mesti berulang-ulang kali mengucap syukur kepada Tuhan kita atas kebaikan-Nya. Kita masih diberikan kesempatan untuk menjalani hidup. Dalam kenikmatan nasi Padang, kita mengenal perpaduan antara rasa dari ciptaan manusia dan kasih yang bersumber kepada Allah. Marilah kita menyantap nasi Padang dan menikmatinya, namun tetap dengan secukupnya. Berikanlah nasi Padang itu kepada teman-teman terdekat kita, bahkan kepada musuh kita sekalipun. Nasi padang juga adalah sarana untuk membawakan kedamaian, karena dari porsinya yang banyak dan lezat itu, orang-orang bisa kenyang sampai lupa apa yang mau diributkan atau dipermasalahkan. Suami istri hendaknya makan nasi Padang kalau mereka bertengkar. Saudara saudari juga, santaplah nasi padang dulu kalau kalian mau berebut warisan. Intinya adalah, nasi Padang itu sangatlah baik. Ia adalah bagian dari kasih Kristus. Kristuslah yang memberkati kita. Hidup nasi Padang! Tapi yang jauh lebih penting, hiduplah iman kita kepada Allah Bapa, Allah Putera, dan Allah Roh Kudus, amen!



[1] Alex David, Examining Give Me Liberty or Give Me Death by Patrick Henry (New York: Enslow Publishing, 2021), 55-56.

[2] https://id.wikipedia.org/wiki/Geef_Mij_Maar_Nasi_Goreng, diakses pada tanggal 21 Juni 2025. Lih. Fadly Rahman, Rijsttafel: Budaya Kuliner di Indonesia masa Kolonial 1870 - 1942 (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2016), 88-89.

[3] Armada Riyanto, Teologi Publik: Sayap Metodologi dan Praksis (Yogyakarta: PT Kanisius, 2021), 279.

[4] Dewi Sri Sinaga, Hamba Tuhan atau Hamba Perut? (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2018), 6.

[5] Anna Marmodoro, Damiano Migliori, dan Ben Page, “Introduction” dalam The Oxford Handbook of Omnipresence, Ed. Anna Marmodoro & Damiano Migliori (Oxford: Oxford University Press, 2025), 2.

[6] Teh tawar hangat, nasi Padang dengan lauk paru-paru sapi goreng. Makannya di Citra Bundo Cikini, Jakarta Pusat. Ahh enaknyaa!!

[7] Rumah Makan Padang Panorama di Pematangsiantar. Lauknya ayam goreng bumbu, sate ayam tiga tusuk, pake kerupuk kentang. Ini juga enak woii.

[8] Craig S. Farmer, The Gospel of John in the Sixteenth Century: The Johannine Exegesis of Wolfgang Musculus (Oxford: Oxford University Press, 1997), 72.

[9] Silahkan anda lihat secara langsung, Doa Bapa Kami atau The Lord’s Prayer dalam bahasa Inggris di sini: https://www.biblegateway.com/passage/?search=Matthew%206%3A9-13&version=KJV

[10] Pijar Anugerah, “Nasi Padang: Sejarah, kalori, dan semua hal yang perlu Anda ketahui,” (29 November 2019), https://www.bbc.com/indonesia/majalah-50541428, diakses pada tanggal 21 Juni 2025.   

[11] Randy Frazee, The Heart of the Story: Discover Your Life Within the Grand Epic of God's Story (Grand Rapids, Michigan: Zondervan, 2017), 87-89.

[12] Katrin Vee, Rendang dan Rempah: Sejarah dan Tradisi Nasi Padang (Yogyakarta: Penerbit ANDI, 2023), 4.

[13] Tentunya yang saya maksud dan juga saya harapkan, bahwa alasan mengapa anda dimusuhi adalah karena anda itu benar atau anda adalah orang yang benar. Kalau anda dimusuhi karena anda menyakiti orang lain atau karena anda berbuat dosa, maka bertobatlah.

[14] Gwen Costello, Spiritual Gems from Mother Teresa (New London: Twenty-Third, 2008), 13.

[15] John Piper, 'Love Your Enemies': Jesus' Love Command in the Synoptic Gospels and in the Early Christian Paraenesis (Cambridge: Cambridge University Press, 1979), 129.

[16] Dana Robinson, Food, Virtue, and the Shaping of Early Christianity (Cambridge: Cambridge University Press, 2020), 101.

[17] Keith L. Johnson & Timothy Larsen (Ed), Bonhoeffer, Christ and Culture (Downers Grove, IVP Academic, 2013), 88.

[18] Jan Christian Wismar Saragih, “Costly Grace According to Dietrich Bonhoeffer: Why does it matter today?” Kamasean: Jurnal Teologi Kristen 6, no. 1 (2025): 22-23.

Kamis, 13 Juni 2024

Kalau Aku Tidak Meminjamkan Uang Kepadamu, Kau Masih Aku Anggap Sebagai Temanku

A. Mengapa?

    Judulnya aneh kan? Aku tak mau minjamkan uang ke seseorang, tapi itu karena aku anggap dia masih temanku. Itukah maksudnya? Ada sebuah adegan film karya Robert De Niro yang dirilis pada tahun 1993, judulnya "A Bronx Tale." Di adegan ini, ada seorang pemuda yang mengejar "teman"nya yang bernama Louie untuk menagih utangnya yang sebesar 20 dolar itu. 

"Where's my fucking money!?" (mana uangku, bangsat!?)

Itulah katanya. Tapi kemudian pemuda ini dinasehati oleh Sonny.

Sonny berkata : "Is he a friend of yours?" (apakah dia temanmu?)

"No, i don't even like him" (tidak. aku bahkan tak suka dia)

"Well that's your answer right there! 20 bucks and he's out of your life for good.(Itulah jawaban dari masalahmu, 20 dolar dan dia pergi dari hidupmu untuk selamanya).

    Jadi dari adegan ini (untuk lebih jelas cari saja di Youtube), bukankah sudah jelas apa yang aku maksud? Ternyata cara untuk menjauhi orang di dalam kehidupan kita adalah dengan meminjamkan uang kepadanya. Jadi bayangkan kalau aku menolak untuk meminjamkan uang kepadamu. Kenapa aku tak mau? itu karena aku masih mau berteman denganmu.

B. Aku Jelaskan Sedikit

    Dewasa ini banyak sekali orang yang depresi, merasa kesepian, dan lain-lain. Aku tak mau hal yang sama terjadi pada orang-orang yang kukasihi dan kepada diriku. Sehingga aku sangat-sangat menghargai kawan-kawan yang masih aku punya. Bulan Agustus 2023 yang lalu aku menyaksikan mayat sahabatku sejak 2019. Jadi aku tahu seberapa berharganya teman itu, apalagi sahabat. 

    Jadi aku sedih tiap kali ada yang chat aku di Whatsapp. "Jan, boleh aku pinjam uangmu?." Percayalah kawan, aku sendiri gak punya banyak uang. Apa yang aku punya lebih banyak aku bagikan ke adekku dan sisanya aku tabung. Kalau aku meminjamkan uang, entah ke siapapun itu, aku takut hubungan kami akan menjadi jauh. 

    Aku pernah meminjamkan uang sebesar 1.750.000 untuk kebutuhan yang begitu mendesak. Bahkan dia rela mau menitipkan laptopnya kepadaku sebagai jaminan (tentu aku tolak). Aku pinjamkan tanggal 1 Oktober 2023, dan sekarang 13 Juni 2024 satu rupiah pun belum ada dikembalikan padaku. Aku harus menghubungi orang ini di Whatsapp hampir tiap minggu, hanya untuk mendengar alasan, alasan, alasan, dan alasan lainnya. Sudah beberapa kali aku bilang kalau utangnya itu bisa dicicil, bayarlah seenggaknya 200 ribu, 100 ribu, atau bahkan 50 ribu daripada tidak sama sekali. Aku tidak menagih riba atau bunga apapun terhadap utang itu. 1.750.000 yang aku pinjamkan, segitu jugalah yang aku minta kembali. Aku rasa kalau uang sebanyak ini didapat dari pinjol, sudah habis-habisanlah dia membayar bunganya. Jadi apakah aku yang jahat disini? seolah-olah aku mengemis kepadanya. Aku ada waktu dia sedang membutuhkan uang itu. Sekarang aku yang sedang butuh uang, kenapa dia yang tidak ada untukku? Iyakan? Aku hadir waktu dia sedang membutuhkan, sekarang dia dimana ketika aku yang membutuhkan?

    Percayalah, aku tidak punya uang sebanyak itu. Pengeluaranku saja yang sangat sedikit karena masih ditopang orangtua. Tapi secara pribadi, uangku tidak banyak. Aku diajarkan oleh orangtuaku : kalau sudah berani pinjam, maka beranilah untuk membayarnya kembali. Sayangnya, aku bertanya kepada teman-teman dari orang yang kupinjamkan uang ini. Ternyata perkataan mereka hampir sama. "Iya Jan, kalau sudah bahas utang tidak pernah dia mau membayar" "Aih Jan, harusnya kau ngomong dulu samaku. Dia itu kalau sudah minjam tidak pernah mau bayar." dan lain-lain. Ternyata mereka semua sepakat kalau orang ini suka meminjam uang, tapi tak pernah mau membayar ketika waktunya tiba. Ah, sialan, andai aku tahu sebelum aku pinjamkan uang itu.

    C. Bagaimana kedepannya?

    Tapi tenanglah, aku belajar dari kesalahanku ini. Setelah ini, aku gak akan mau lagi meminjamkan uang. Akan aku bilang "nggak, aku gak bisa minjamkan uang kepadamu." tapi yakinlah, kalau aku bilang ini, itu tandanya aku menganggap kau sebagai temanku. Orang yang masih ingin kujadikan sebagai teman bicara, teman nongkrong, dll. Hal ini sudah terjadi kurang lebih 3 kali, dan tiga orang yang berbeda. Ketiga orang ini adalah kawan-kawanku yang baik. Maaf aku tidak bisa minjamkan uang ke kalian, tapi yakinlah kalau ada cara lain untuk membantu, akan aku bantu. Tapi kalau aku pinjamkan uang kepadamu, aku takut pertemanan kita akan berakhir. Tapi mengenai uang yang aku pinjamkan di Oktober 2023 itu, entahlah. Rasanya aku belum ikhlas sama sekali. Aku masih berusaha untuk meminta uang itu lagi. Menurutku perbuatanku ini tak salah. Kami sudah sepakat kalau uang itu adalah pinjaman, dan aku sama sekali tidak menagih riba atau bunga dari pinjaman itu. 

Semoga dia cepat sadar. Untuk kedepannya aku ingin menjaga pertemanan-pertemanan yang masih aku miliki. Semoga Tuhan memberkati kita semua, amin.

     

Selasa, 13 Oktober 2020

Surat Roma : Ajaran dan Peringatan Paulus kepada Jemaat Kristen di Roma

 

SURAT ROMA

 Ajaran dan  Peringatan Rasul Paulus kepada Jemaat Kristen di Roma

A. Pendahuluan

            Paulus dikreditkan sebagai penulis dari surat ini dilihat dari pembuka surat tersebut (Rom 1:1) dimana Paulus menyatakan dirinya sebagai seorang hamba yang kemudian dijadikan sebagai Rasul oleh Yesus. Meskipun Paulus menyatakan dirinya sebagai penulis surat ini, Paulus tidak menulis langsung surat tersebut melainkan melalui perantara Tertulius yang menyebutkan mengenai dirinya sendiri di Roma 16:22. Mengenai tujuan dari surat ini dapat dipastikan tujuannya kepada jemaat Kristen di Roma (Roma 1:7). Dilihat dari isi surat ini, Paulus banyak memberikan ajaran, nasehat maupun peringatan kepada jemaat di Roma. Sebagian kecil dari ajaran dan peringatan Paulus inilah yang nantinya akan dilihat lebih lanjut untuk mengetahui lebih luas baik mengenai ajaran Kristen yang disampaikan oleh Paulus itu sendiri maupun keadaan jemaat Roma pada waktu itu.

B. Pengajaran dari Paulus

            Surat Roma banyak memiliki ajaran-ajaran maupun nasehat kepada jemaat Roma yang berasal dari rasul Paulus. Paulus menuliskan ajaran tersebut dengan tujuan untuk mengatasi kebingungan yang terjadi di tengah jemaat Roma mengenai hal-hal dasar seperti injil untuk orang yang bukan Yahudi, bagaimana cara berperilaku dan bersikap serta ajaran dan nasehat lainnya yang dapat ditemukan di dalam surat ini secara keseluruhan.

1. Hukum Taurat dan Sunat (2:17-29)

            Berdasarkan Roma 2:17-29. Paulus menegaskan mengenai hukum taurat dan sunat yang tidak akan menyelamatkan orang Yahudi. Paulus menjelaskan mengenai beberapa teguran terhadap orang Yahudi yang masih terlalu bersandar kepada Hukum Taurat. Tampaknya juga Paulus melihat adanya kemunafikan di tengah orang-orang Yahudi tersebut (2:22) yang mengetahui isi dari Hukum Taurat namun dengan sadar melanggar hukum tersebut. Selain itu Paulus di dalam suratnya Roma 2:25 juga menjelaskan mengenai kesia-siaan seseorang yang disunat apabila dia melanggar hukum taurat tersebut.

2. Pembenaran Manusia atas dasar Iman (3:21-31)

            Paulus menegaskan bahwa pada dasarnya manusia adalah makhluk yang berdosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah (3:23). Oleh karena seluruh umat manusia dinyatakan berdosa, maka manusia membutuhkan adanya pembenaran di dalam dirinya. Oleh karena hal tersebutlah Paulus menjelaskan kembali mengenai Yesus sebagai seorang penebus dan manusia yang dibenarkan oleh iman. Hal ini dipertegas kembali di Roma 3:27 yang menyatakan bahwa dasar keselamatan adalah iman dan bukan perbuatan seseorang. Paulus menjelaskan pengertian ini dengan isinya yang bersifat universal baik bagi orang Yahudi maupun non-Yahudi. Namun meskipun mempercayai iman, Paulus tidak membatalkan Hukum Taurat (3:31).

3. Hasil dari Pembenaran (5:1-11)

            Pada bagian dari suratnya ini Paulus kemudian menjelaskan hasil dari orang yanng percaya dan dibenarkan oleh Yesus Kristus. Hasil-hasil dari pembenaran tersebut adalah beroleh hidup damai sejahtera (5:1), menerima kemuliaan yang berasal dari Allah (5:2), diselamatkan dari murka Allah (5:9), serta dapat bermegah di dalam Allah (5:11). Perlu diperhatikan kembali bahwa hasil dari pembenaran tesebut hanya dapat dilakukan apabila manusia mendapatkan pembenaran tersebut melalui imannya kepada Yesus Kristus (5:1) sebagai satu-satunya jalan masuk bagi iman kepada kasih karunia (5:2).

4. Persembahan yang benar (12:1-8)

            Dari ayatnya yang pertama dapat diketahui bahwa Paulus menasihati jemaat Roma untuk dapat memberikan persembahan yang benar kepada Allah. Menurut surat ini, persembahan yang benar adalah persembahan tubuh sebagai persembahan yang hidup, kudus dan berkenan kepada Allah. Persembahan inilah yang dapat disebutkan sebagai ibadah yang sejati. Paulus juga meminta jemaat Roma untuk memikirkan mengenai apa yang benar berdasarkan kehendak Allah (12:2). Paulus juga mendorong jemaat tersebut untuk saling menasihati dan mengajar satu sama lain apabila diberikan karunia untuk melakukan hal tersebut (12:7-8).

C. Peringatan dari Paulus

            Selain beberapa nasihat dan ajaran yang diberikan oleh Paulus, terdapat juga beberapa teguran dan bahkan peringatan yang ditujukannya kepada jemaat di Roma. Peringatan ini pada dasarnya berisikan mengenai kewaspadaan terhadap ajaran-ajaran yang sesat dan hukuman Allah kepada manusia yang diakibatkan oleh kefasikan manusia tersebut. Tujuan dari peringatan ini adalah untuk menghindari jemaat Roma dari perpecahan yang dapat ditimbulkan dari ajaran-ajaran sesat tersebut. Peringatan yang diberikan oleh Paulus adalah sebagai berikut.

            1. Peringatan terhadap Ajaran Sesat (16:17-24)

            Paulus memperingatkan kepada jemaat Roma untuk menghindari ajaran-ajaran sesat yang berbeda dengan pengajaran yang sudah mereka terima sebelumnya. Hal ini dikarenakan oleh ajaran sesat tersebut berasal dari orang yang tidak melayani Yesus. Paulus mengetahui bahwa jemaat di Roma adalah jemaat yang taat (16:19), namun Paulus tetap meminta kepada jemaat tersebut untuk tetap bijaksana dalam perilakunya. Peringatan ini cukup singkat dan kemudian diakhiri dengan pengucapan salam kepada rekan kerja Paulus dalam penginjilan juga ada di bagian terakhir surat Roma ini.

            2. Peringatan akan Hukuman Allah (1:18-32)

            Hukuman Allah yang dimaksud oleh paulus adalah murka-Nya yang disebabkan oleh kefasikan dan kelaliman manusia (1:18). Selain itu, peringatan ini juga berlaku kepada orang yang mengenal Allah namun perilakunya tidak memuliakan-Nya (1:21). Peringatan ini bersifat tegas dimana Allah memiliki kuasa untuk memberikan hukuman-Nya kepada manusia yang memang jahat di dalam perilakunya. Bahkan serangkaian peringatan ini juga menyebutkan mengenai hukuman mati bagi mereka yang mengetahui tuntutan Allah namun dalam perilakunya berbuat hal yang tidak dikehendaki oleh Allah (1:32).

B. Penutup

            Dengan  memahami ajaran serta peringatan yang diberikan oleh Paulus kepada jemaat di Roma, diharapkan kedua hal tersebut dapat direfleksikan kepada kehidupan kita yang sekarang. Dengan memahami surat Roma juga kita dapat mengerti bagaiman jemaat Roma tetap bertahan dan memegang iman Kristennya dan berperilaku sebagaiman orang Kristen yang seharusnya. Hal ini tentu penting karena ajaran serta peringatan tersebut dapat dikatakan masih berlaku hingga sekarang kepada kita sebagai orang Kristen yang telah menerima pembenaran oleh Yesus.

Rabu, 29 April 2020

Kitab Yeremia : Konteks, Isu, Asal-usul, Teologi dan Isinya


KITAB YEREMIA

A. Konteks Alkitab
            Berdasarkan konteks sejarah kitab Yeremia, kitab ini tidak disusun ke dalam urutan peristiwa yang kronologis namun terdapat bagian sejarah yang menghubungkan zaman kitab ini ke dalam pemerintahan Yosia hingga ke gubernur Gedalya.[1] Selain itu kitab Yeremia juga memiliki struktur-struktur yang berbeda yang disajikan ke dalam dua versi yaitu versi Ibrani dan Yunani. Menurut pemahaman para ahli, versi Yunani lebih dipandang sebagai teks yang lebih orisinal dan teks Ibrani sebagai perluasan dan perkembangan editorial.
            Kitab Yeremia dapat dibagi kedalam subkategori biografi, prosa, dan puisi. Ketiga sub kategori tersebut tentunya dapat dijelaskan secara terpisah. Sebagai contoh, materi biografi yang dapat ditemukan di dalam pasal 26-29, 32, dan 34-44 memiliki fokus terhadap kejadian yang mengarah kepada keruntuhan kota Yerusalem pada penaklukan Babilonia. Sedangkan bagian lainnya seperti muatan mengenai prosa seperti yang terdapat pada pasal 7 dan 11:1-17 dapat ditemukan secara tersebar di keseluruhan kitab tersebut.
            Mengenai materi-materi puisi kitab Yeremia, tentu saja materi ini memiliki keterkaitan yang kuat dan  dapat dihubungkan kepada tradisi-tradisi Yeremia. Materi puisi ini dapat ditemukan di dalam pasal 1-25 dan banyak berisikan mengenai orakel-orakel dimana nabi Yeremia menyampaikan pesan yang diberikan oleh Allah dimana dalam hal ini posisi Yeremia adalah sebagai penyampai pesan dari Allah atau God's messenger. [2] Ketiga bagian ini juga merupakan bagian yang penting dan tidak dapat dipisahkan dari studi mengenai kitab Yeremia itu sendiri dan juga memiliki fungsi yang dapat dikatakan saling melengkapi.
B. Analisis Historis dan Isu Utama Sejarah Penafsiran Kritis
            Menurut Sigmund Mowinckel, kitab Yeremia dibagi ke dalam 4 potongan sumber. Adapun pembagian ini juga mendapatkan  inspirasinya dari riset pentateukhal dimana keempat sumber tersebut diurutkan sebagai sumber A, B, C, dan D. Perlu diperhatikan juga bahwa menurut Thiel kitab Yeremia juga terdiri dari 3 bagian yaitu teks Yeremia, teks redaksional deuteronomistik (D) dan teks redaksional pasca deuteronomistik (PD). Selain pembagian tersebut, terdapat pemahaman yang cukup unik dari para ahli dimana Yeremia tidak dihasilkan dari sebuah editorial secara keseluruhan melainkan diisi oleh rangkaian editorial kecil yang kemudian semakin bertambah menjadi satu kitab yang strukturnya cukup kompleks.[3]
            Perlu diperhatikan  juga bahwa usaha penafsiran klasik yang dilakukan oleh Duhm menghasilkan banyak perdebatan dikarenakan oleh potongan-potongan radikal yang dikerjakannya. Namun, pekerjaan yang dilakukan Duhm tersebut berhasil memulai penelitian terhadap analisa dan evaluasi historis terhadap para nabi dan kisahnya. Hal ini dikarenakan oleh pendekatan yang dimiliki oleh Duhm dimana ia memahami bahwa teks-teks yang terdapat di dalam Alkitab tidak ditulis ke dalam suatu periode yang singkat melainkan sebaliknya.
            Perlu diperhatikan kembali mengenai kajian historis yang dilakukan oleh Duhm. Pada dasarnya Duhm menafsirkan kitab ini dengan memotong jumlah materi autentik yang dimiliki oleh nabi Yeremia. Penafsiran pembagian ini kemudian dibagi menjadi kurang lebih seperempat dari keseluruhan kitab tersebut. Tentu saja penafsiran tersebut awalnya dianggap sebagai sebuah penafsiran yang radikal. Namun, pengembangan yang lebih lanjut dapat membawa kembali kepada kesimpulan yang baru mengenai kitab Yeremia ini secara keseluruhan. Studi ini juga banyak menghantarkan kepada studi-studi baru kedepannya mengenai kitab Yeremia.
Latar belakang sejarah terhadap kitab ini juga menunjukkan secara singkat di dalam superskripsi kitab tersebut. Berdasarkan kitab ini, nabi Yeremia memulai pelayanannya pada tahun ke-13 raja Yosia (627 SM) dan berakhir pada tahun ke-11 raja Zedekia (586 SM).[4] Selama periode tersebut, kejadian penting yang menarik untuk diperhatikan adalah dimana Asyur ditaklukkan oleh Babilonia hingga penaklukan yang dilakukan oleh Mesir terhadap Babilonia dan juga berhasil menaklukkan kerajaan Yudea (605 SM). Latar belakang sejarah inilah yang dapat membantu untuk memahami urutan kejadian yang terdapat di dalam kitab ini.
C. Asal-Usul Kitab Yeremia
            Teks kitab Yeremia yang dapat dianggap sebagai teks yang tertua adalah pada bagian puisi yang terdapat di pada Yeremia 1-25 dan 46-51. Teks ini berisikan ratapan dan konteks sejarahnya sendiri dapat dihubungkan pada masa kehancuran Yehuda dan Yerusalem yang terjadi pada tahun 587-586 SM. Dari kitab ratapan juga terdapat teks tuduhan yang merupakan hasil dari ekpansi editorial tertulis. Bagian-bagian lainnya yang juga terdapat di dalam pemahaman mengenai asal-usul kitab Yeremia adalah mengenai materi narasi serta persoalan peredaksian deuteronomistik yang terdapat di dalam kitab ini.  Pengakuan-pengakuan Yeremia juga terdapat di dalam kitab ini dan dapat dibandingkan ke dalam ratapan Deutro-Yesaya.
Selain itu, Kitab Yeremia yang berisikan 52 pasal ini awalnya memiliki sebuah gulungan asli yang kemudian digantikan oleh gulungan baru yang dibacakan oleh nabi Yeremia setelah gulungan yang asli tersebut dibakar oleh raja Yoyakim.[5] Gulungan asli ini tentunya masih terdapat di dalam kitab Yesaya meskipun bentuknya sendiri tidak dapat dianggap sebagai asli lagi. Gulungan tersebut juga merupakan gulungan yang pendek dimana gulungan tersebut dibacakan sebanyak sekali hingga dua kali sehari dihadapan raja termasuk pada pasal 46-49.
            Di dalam pasal 21-23 terdapat pernyataan yang cukup menarik yang terdapat di dalam kitab Yeremia ini. Isi dari teks ini pada dasarnya berisikan mengenai kritikan yang diberikan oleh nabi Yeremia terhadap keluarga istana raja Yehuda. Teks ini juga membuktikan periode yang dimaksud di dalam kitab Yeremia yang pada dasarnya terjadi pada periode pemerintahan raja Yoyakim. Teks ini merupakan salah satu teks yang dianggap tua di kitab Yeremia.
            Selain itu, pada tulisan yang terdapat di Jeremiah 11:18–12.6, 15:10–21, 17:14–18, 18:18–23, and 20:7–18 berisi mengenai keluhan nabi Yeremia terhadap panggilan-panggilan yang dimilikinya serta kebencian yang harus ditanggung olehnya. Keluhan ini dituliskan kedalam bentuk-bentuk ratapan individual yang digemakan dan dapat disamakan di dalam kitab Mazmur. Namun dalam perbandingan terhadap kitab Mazmur tersebut, terdapat sebuah realisasi dimana pengakuan tersebut pada dasarnya memiliki bahasa dan kontruksi yang mengikuti sifat konvensi formal. Pengakuan tersebut juga berisikan mengenai antagonisme yang sangat kuat terhadap antara iman yang dimiliki oleh orang saleh dan orang yang tidak beriman. Teks ini dianggap sebagai penghiburan redaksional yang dilekatkan pada pribadi Yeremia.

D. Teologi Kitab Yeremia
            Terdapat beberapa paham teologis penting yang perlu diperhatikan di dalam kitab Yeremia. Beberapa paham teologis yang terdapat di dalamnya adalah sebagai berikut :
1. Kekuasaan Allah di dalam Sejarah : Teologia Yeremia menekankan terhadap peristiwa yang dihadapi oleh bangsa Israel merupakan bagian dari kekuasaan Allah yang dianggap memiliki kekuasaan yang jauh lebih besar apabila dibandingkan dengan politik manusia. Pada pemahaman teologi ini Yeremia juga menggunakan prinsip mengenai berkat dan hukuman. Kekuasaan Allah juga banyak dinyatakan melalui hukuman di dalam kitab ini.[6]
2. Pertobatan : Dokumentasi kitab Yesaya pada dasarnya menceritakan mengenai hilangnya kesempatan bagi bangsa Yehuda dan Yerusalem untuk melakukan pertobatan. Yeremia juga memproklamasikan penghakiman dan peringatan sebagai akibatnya. Yeremia kemudian berfokus kepada pertobatan yang dengan lambat diperkuat pada masa periode pasca pembuangan di Babel. Etiologi mengenai bencana alam nasional juga terdapat di kitab ini.
3. Perjanjian Baru : Kitab Yeremia mengandung janji mengenai adanya sebuah perjanjian baru yang terdapat di Yeremia 31:31-34. Janji ini pada dasarnya adalah mengenai perjanjian yang diadakan oleh YHWH untuk menempatkan hukum pada bangsa Israel. Perjanjian baru ini tentu saja dapat dipahami sebagai dasar dari tradisi-tradisi Yeremia yang menggunakan sebuah argumentasi baru mengenai isi teks tersebut yang bersifat terus terang.
4. Penderitaan sang nabi : Kitab Yeremia juga mengekspresikan mengenai penderitaan yang harus dihadapi oleh nabi Yeremia. Penekanan dari penderitaan ini juga memiliki hubungan aktual dari Yeremia historis. Tema penderitaan ini tentu saja telah banyak diadopsi dan dikembangkan lebih lanjut dan juga menghasilkan daya tariknya tersendiri. Penderitaan ini juga tampaknya memiliki hubungan terhadap pengakuan-pengakuan Yeremia.
5 Iman Pribadi yang kuat[7] : Tema pengharapan ini tentunya adalah merupakan hasil dari dedikasi yang dimililki oleh nabi Yeremia kehendak Allah. Selain itu, Yeremia juga banyak menunjukkan adanya kepercayaan yang teguh terhadap kehendak dan kekuasaan yang dimiliki oleh Allah. Sumber dari motivasi nabi Yeremia tersebut juga pada dasarnya berasal dari kepercayaannya sendiri terhadap Allah dimana ia juga bersifat optimis di dalam kepercayaannya. Tema ini juga banyak diperhatikan oleh para ahli sebagai hal yang menarik di dalam Yeremia.
E. Isi Kitab Yeremia
            Isi yang terdapat di dalam kitab Yeremia dapat dibagi berdasarkan enam kategori yang berbeda. Berikut ini adalah pembagiannya beserta dengan pasal-pasal kitab tersebut. Pembagian-pembagian lainnya yang dilakukan terhadap kitab ini juga dapat mengalami sedikit perbedaan, namun pada dasarnya pembagian tersebut tetap memiliki inti pembagian yang sama.[8]
1. Pasal 1-25  : Pesan-pesan awal dan inti dari pemberitaan yang dilakukan oleh Yeremia.
2. Pasal 26-29 : Material mengenai biografi dan interaksi terhadap nabi-nabi lainnya
3. Pasal 30-33 : Janji Allah untuk memulihkan Yudea termasuk perjanjian baru Yeremia.
4. Pasal 34-45 : Interaksi dan hubungan dengan zedekia serta kejatuhan kota Yerusalem.
5. Pasal 46-51 : Hukuman-hukuman ilahi terhadap bangsa di sekitar wilayah Israel.
6. Pasal 52      : Serangkaian lampiran yang menceritakan kembali Raja-raja : 24:18-25:30.
Berdasarkan isinya kitab Yeremia ingin membahas mengenai hukuman yang akan diberikan oleh Allah apabila bangsa Israel tidak mendengar firman yang diberikan oleh Yeremia kepada mereka. Yeremia juga menyempatkan posisinya di sini sebagai orang yang menyampaikan pesan dari Allah. Yeremia sangat menentang praktik penyembahan berhala yang pada saat itu sangat menyebar ditandai ditandai dengan ilah-ilah atau kafir baru serta patung-patung berhala di Bait Suci. Yeremia juga dikenal banyak memberi peringatan terhadap bangsa Israel dengan tujuan untuk membawa bangsa tersebut ke dalam pertobatan yang total. Dengan melakukan pertobatan inilah Yeremia pada dasarnya berharap untuk menghindari dan menyelamatkan bangsa Israel dari penghukuman yang akan diberikan oleh Allah.
Menurut kitab ini Yeremia adalah nabi yang dipilih langsung oleh Tuhan sejak ia masih dalam kandungan ibunya namun masih banyak pertentangan yang terjadi karena banyak nabi palsu yang memusuhi Yeremia. Pemandangan yang dimiliki oleh Nabi Yeremia juga berada jauh ke depan kepada masa kembalinya Yehuda dari pembuangan di mana Yeremia Berencana untuk memulai kehidupan yang baru di Palestina. Selain itu tujuan lainnya yang dimiliki oleh Yeremia yaitu untuk memperbaiki tatanan moral yang dianggap pada saat itu bobrok di Israel menjadi kembali ke tatanan moral dimana bangsa Israel memiliki ketaatan terhadap Allah. Tujuan ini juga merupakan tujuan yang sederhana namun sangat berpengaruh dan merupakan tujuan sentral terhadap pelayanan yang dilakukan oleh Yeremia baik kepada bangsa Israel maupun Allah.



[1] W.S Lasor dkk, Pengantar Perjanjian Lama 2 : Sastra Dan Nubuat (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2019).
[2] Robert Davidson, "The Book of  Yeremiah". In Metzger, Bruce M.; Coogan, Michael D. (eds.), (The Oxford Companion to the Bible, Oxford University Press, 1993), 345-346.
[3] Jan Christian Gertz et al., Purwa Pustaka (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2017), 517-518.
[4] Marc Zvi Bretller, How to read the Bible, (Philadelpia-Pennsilvania, Jewish Publication Society, 2010), 173.
[5] Dr. J. Bloomendaal, Pengantar Kepada Perjanjian Lama, (Jakarta, BPK Gunung Mulia, 2016), 119.
[6] W. S. Lasor dkk,.. 331.
[7] W. S. Lasor dkk,.. 335.
[8] Coogan, Michael D, A Brief Introduction to the Old Testament: The Hebrew Bible in Its Context, (Oxford UK, Oxford University Press, 2008), 299.

Teologi Nasi Padang: Melihat Nasi Padang Sebagai Berkat Tuhan dari Perspektif Teologi Kristen

  oleh: Fregata "Hanya nasi Padang yang mengerti perasaanku" - Unknown - "AKU MAU NASI PADANG!!" - Sinetron Para...