Rabu, 29 April 2020

Kitab Yeremia : Konteks, Isu, Asal-usul, Teologi dan Isinya


KITAB YEREMIA

A. Konteks Alkitab
            Berdasarkan konteks sejarah kitab Yeremia, kitab ini tidak disusun ke dalam urutan peristiwa yang kronologis namun terdapat bagian sejarah yang menghubungkan zaman kitab ini ke dalam pemerintahan Yosia hingga ke gubernur Gedalya.[1] Selain itu kitab Yeremia juga memiliki struktur-struktur yang berbeda yang disajikan ke dalam dua versi yaitu versi Ibrani dan Yunani. Menurut pemahaman para ahli, versi Yunani lebih dipandang sebagai teks yang lebih orisinal dan teks Ibrani sebagai perluasan dan perkembangan editorial.
            Kitab Yeremia dapat dibagi kedalam subkategori biografi, prosa, dan puisi. Ketiga sub kategori tersebut tentunya dapat dijelaskan secara terpisah. Sebagai contoh, materi biografi yang dapat ditemukan di dalam pasal 26-29, 32, dan 34-44 memiliki fokus terhadap kejadian yang mengarah kepada keruntuhan kota Yerusalem pada penaklukan Babilonia. Sedangkan bagian lainnya seperti muatan mengenai prosa seperti yang terdapat pada pasal 7 dan 11:1-17 dapat ditemukan secara tersebar di keseluruhan kitab tersebut.
            Mengenai materi-materi puisi kitab Yeremia, tentu saja materi ini memiliki keterkaitan yang kuat dan  dapat dihubungkan kepada tradisi-tradisi Yeremia. Materi puisi ini dapat ditemukan di dalam pasal 1-25 dan banyak berisikan mengenai orakel-orakel dimana nabi Yeremia menyampaikan pesan yang diberikan oleh Allah dimana dalam hal ini posisi Yeremia adalah sebagai penyampai pesan dari Allah atau God's messenger. [2] Ketiga bagian ini juga merupakan bagian yang penting dan tidak dapat dipisahkan dari studi mengenai kitab Yeremia itu sendiri dan juga memiliki fungsi yang dapat dikatakan saling melengkapi.
B. Analisis Historis dan Isu Utama Sejarah Penafsiran Kritis
            Menurut Sigmund Mowinckel, kitab Yeremia dibagi ke dalam 4 potongan sumber. Adapun pembagian ini juga mendapatkan  inspirasinya dari riset pentateukhal dimana keempat sumber tersebut diurutkan sebagai sumber A, B, C, dan D. Perlu diperhatikan juga bahwa menurut Thiel kitab Yeremia juga terdiri dari 3 bagian yaitu teks Yeremia, teks redaksional deuteronomistik (D) dan teks redaksional pasca deuteronomistik (PD). Selain pembagian tersebut, terdapat pemahaman yang cukup unik dari para ahli dimana Yeremia tidak dihasilkan dari sebuah editorial secara keseluruhan melainkan diisi oleh rangkaian editorial kecil yang kemudian semakin bertambah menjadi satu kitab yang strukturnya cukup kompleks.[3]
            Perlu diperhatikan  juga bahwa usaha penafsiran klasik yang dilakukan oleh Duhm menghasilkan banyak perdebatan dikarenakan oleh potongan-potongan radikal yang dikerjakannya. Namun, pekerjaan yang dilakukan Duhm tersebut berhasil memulai penelitian terhadap analisa dan evaluasi historis terhadap para nabi dan kisahnya. Hal ini dikarenakan oleh pendekatan yang dimiliki oleh Duhm dimana ia memahami bahwa teks-teks yang terdapat di dalam Alkitab tidak ditulis ke dalam suatu periode yang singkat melainkan sebaliknya.
            Perlu diperhatikan kembali mengenai kajian historis yang dilakukan oleh Duhm. Pada dasarnya Duhm menafsirkan kitab ini dengan memotong jumlah materi autentik yang dimiliki oleh nabi Yeremia. Penafsiran pembagian ini kemudian dibagi menjadi kurang lebih seperempat dari keseluruhan kitab tersebut. Tentu saja penafsiran tersebut awalnya dianggap sebagai sebuah penafsiran yang radikal. Namun, pengembangan yang lebih lanjut dapat membawa kembali kepada kesimpulan yang baru mengenai kitab Yeremia ini secara keseluruhan. Studi ini juga banyak menghantarkan kepada studi-studi baru kedepannya mengenai kitab Yeremia.
Latar belakang sejarah terhadap kitab ini juga menunjukkan secara singkat di dalam superskripsi kitab tersebut. Berdasarkan kitab ini, nabi Yeremia memulai pelayanannya pada tahun ke-13 raja Yosia (627 SM) dan berakhir pada tahun ke-11 raja Zedekia (586 SM).[4] Selama periode tersebut, kejadian penting yang menarik untuk diperhatikan adalah dimana Asyur ditaklukkan oleh Babilonia hingga penaklukan yang dilakukan oleh Mesir terhadap Babilonia dan juga berhasil menaklukkan kerajaan Yudea (605 SM). Latar belakang sejarah inilah yang dapat membantu untuk memahami urutan kejadian yang terdapat di dalam kitab ini.
C. Asal-Usul Kitab Yeremia
            Teks kitab Yeremia yang dapat dianggap sebagai teks yang tertua adalah pada bagian puisi yang terdapat di pada Yeremia 1-25 dan 46-51. Teks ini berisikan ratapan dan konteks sejarahnya sendiri dapat dihubungkan pada masa kehancuran Yehuda dan Yerusalem yang terjadi pada tahun 587-586 SM. Dari kitab ratapan juga terdapat teks tuduhan yang merupakan hasil dari ekpansi editorial tertulis. Bagian-bagian lainnya yang juga terdapat di dalam pemahaman mengenai asal-usul kitab Yeremia adalah mengenai materi narasi serta persoalan peredaksian deuteronomistik yang terdapat di dalam kitab ini.  Pengakuan-pengakuan Yeremia juga terdapat di dalam kitab ini dan dapat dibandingkan ke dalam ratapan Deutro-Yesaya.
Selain itu, Kitab Yeremia yang berisikan 52 pasal ini awalnya memiliki sebuah gulungan asli yang kemudian digantikan oleh gulungan baru yang dibacakan oleh nabi Yeremia setelah gulungan yang asli tersebut dibakar oleh raja Yoyakim.[5] Gulungan asli ini tentunya masih terdapat di dalam kitab Yesaya meskipun bentuknya sendiri tidak dapat dianggap sebagai asli lagi. Gulungan tersebut juga merupakan gulungan yang pendek dimana gulungan tersebut dibacakan sebanyak sekali hingga dua kali sehari dihadapan raja termasuk pada pasal 46-49.
            Di dalam pasal 21-23 terdapat pernyataan yang cukup menarik yang terdapat di dalam kitab Yeremia ini. Isi dari teks ini pada dasarnya berisikan mengenai kritikan yang diberikan oleh nabi Yeremia terhadap keluarga istana raja Yehuda. Teks ini juga membuktikan periode yang dimaksud di dalam kitab Yeremia yang pada dasarnya terjadi pada periode pemerintahan raja Yoyakim. Teks ini merupakan salah satu teks yang dianggap tua di kitab Yeremia.
            Selain itu, pada tulisan yang terdapat di Jeremiah 11:18–12.6, 15:10–21, 17:14–18, 18:18–23, and 20:7–18 berisi mengenai keluhan nabi Yeremia terhadap panggilan-panggilan yang dimilikinya serta kebencian yang harus ditanggung olehnya. Keluhan ini dituliskan kedalam bentuk-bentuk ratapan individual yang digemakan dan dapat disamakan di dalam kitab Mazmur. Namun dalam perbandingan terhadap kitab Mazmur tersebut, terdapat sebuah realisasi dimana pengakuan tersebut pada dasarnya memiliki bahasa dan kontruksi yang mengikuti sifat konvensi formal. Pengakuan tersebut juga berisikan mengenai antagonisme yang sangat kuat terhadap antara iman yang dimiliki oleh orang saleh dan orang yang tidak beriman. Teks ini dianggap sebagai penghiburan redaksional yang dilekatkan pada pribadi Yeremia.

D. Teologi Kitab Yeremia
            Terdapat beberapa paham teologis penting yang perlu diperhatikan di dalam kitab Yeremia. Beberapa paham teologis yang terdapat di dalamnya adalah sebagai berikut :
1. Kekuasaan Allah di dalam Sejarah : Teologia Yeremia menekankan terhadap peristiwa yang dihadapi oleh bangsa Israel merupakan bagian dari kekuasaan Allah yang dianggap memiliki kekuasaan yang jauh lebih besar apabila dibandingkan dengan politik manusia. Pada pemahaman teologi ini Yeremia juga menggunakan prinsip mengenai berkat dan hukuman. Kekuasaan Allah juga banyak dinyatakan melalui hukuman di dalam kitab ini.[6]
2. Pertobatan : Dokumentasi kitab Yesaya pada dasarnya menceritakan mengenai hilangnya kesempatan bagi bangsa Yehuda dan Yerusalem untuk melakukan pertobatan. Yeremia juga memproklamasikan penghakiman dan peringatan sebagai akibatnya. Yeremia kemudian berfokus kepada pertobatan yang dengan lambat diperkuat pada masa periode pasca pembuangan di Babel. Etiologi mengenai bencana alam nasional juga terdapat di kitab ini.
3. Perjanjian Baru : Kitab Yeremia mengandung janji mengenai adanya sebuah perjanjian baru yang terdapat di Yeremia 31:31-34. Janji ini pada dasarnya adalah mengenai perjanjian yang diadakan oleh YHWH untuk menempatkan hukum pada bangsa Israel. Perjanjian baru ini tentu saja dapat dipahami sebagai dasar dari tradisi-tradisi Yeremia yang menggunakan sebuah argumentasi baru mengenai isi teks tersebut yang bersifat terus terang.
4. Penderitaan sang nabi : Kitab Yeremia juga mengekspresikan mengenai penderitaan yang harus dihadapi oleh nabi Yeremia. Penekanan dari penderitaan ini juga memiliki hubungan aktual dari Yeremia historis. Tema penderitaan ini tentu saja telah banyak diadopsi dan dikembangkan lebih lanjut dan juga menghasilkan daya tariknya tersendiri. Penderitaan ini juga tampaknya memiliki hubungan terhadap pengakuan-pengakuan Yeremia.
5 Iman Pribadi yang kuat[7] : Tema pengharapan ini tentunya adalah merupakan hasil dari dedikasi yang dimililki oleh nabi Yeremia kehendak Allah. Selain itu, Yeremia juga banyak menunjukkan adanya kepercayaan yang teguh terhadap kehendak dan kekuasaan yang dimiliki oleh Allah. Sumber dari motivasi nabi Yeremia tersebut juga pada dasarnya berasal dari kepercayaannya sendiri terhadap Allah dimana ia juga bersifat optimis di dalam kepercayaannya. Tema ini juga banyak diperhatikan oleh para ahli sebagai hal yang menarik di dalam Yeremia.
E. Isi Kitab Yeremia
            Isi yang terdapat di dalam kitab Yeremia dapat dibagi berdasarkan enam kategori yang berbeda. Berikut ini adalah pembagiannya beserta dengan pasal-pasal kitab tersebut. Pembagian-pembagian lainnya yang dilakukan terhadap kitab ini juga dapat mengalami sedikit perbedaan, namun pada dasarnya pembagian tersebut tetap memiliki inti pembagian yang sama.[8]
1. Pasal 1-25  : Pesan-pesan awal dan inti dari pemberitaan yang dilakukan oleh Yeremia.
2. Pasal 26-29 : Material mengenai biografi dan interaksi terhadap nabi-nabi lainnya
3. Pasal 30-33 : Janji Allah untuk memulihkan Yudea termasuk perjanjian baru Yeremia.
4. Pasal 34-45 : Interaksi dan hubungan dengan zedekia serta kejatuhan kota Yerusalem.
5. Pasal 46-51 : Hukuman-hukuman ilahi terhadap bangsa di sekitar wilayah Israel.
6. Pasal 52      : Serangkaian lampiran yang menceritakan kembali Raja-raja : 24:18-25:30.
Berdasarkan isinya kitab Yeremia ingin membahas mengenai hukuman yang akan diberikan oleh Allah apabila bangsa Israel tidak mendengar firman yang diberikan oleh Yeremia kepada mereka. Yeremia juga menyempatkan posisinya di sini sebagai orang yang menyampaikan pesan dari Allah. Yeremia sangat menentang praktik penyembahan berhala yang pada saat itu sangat menyebar ditandai ditandai dengan ilah-ilah atau kafir baru serta patung-patung berhala di Bait Suci. Yeremia juga dikenal banyak memberi peringatan terhadap bangsa Israel dengan tujuan untuk membawa bangsa tersebut ke dalam pertobatan yang total. Dengan melakukan pertobatan inilah Yeremia pada dasarnya berharap untuk menghindari dan menyelamatkan bangsa Israel dari penghukuman yang akan diberikan oleh Allah.
Menurut kitab ini Yeremia adalah nabi yang dipilih langsung oleh Tuhan sejak ia masih dalam kandungan ibunya namun masih banyak pertentangan yang terjadi karena banyak nabi palsu yang memusuhi Yeremia. Pemandangan yang dimiliki oleh Nabi Yeremia juga berada jauh ke depan kepada masa kembalinya Yehuda dari pembuangan di mana Yeremia Berencana untuk memulai kehidupan yang baru di Palestina. Selain itu tujuan lainnya yang dimiliki oleh Yeremia yaitu untuk memperbaiki tatanan moral yang dianggap pada saat itu bobrok di Israel menjadi kembali ke tatanan moral dimana bangsa Israel memiliki ketaatan terhadap Allah. Tujuan ini juga merupakan tujuan yang sederhana namun sangat berpengaruh dan merupakan tujuan sentral terhadap pelayanan yang dilakukan oleh Yeremia baik kepada bangsa Israel maupun Allah.



[1] W.S Lasor dkk, Pengantar Perjanjian Lama 2 : Sastra Dan Nubuat (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2019).
[2] Robert Davidson, "The Book of  Yeremiah". In Metzger, Bruce M.; Coogan, Michael D. (eds.), (The Oxford Companion to the Bible, Oxford University Press, 1993), 345-346.
[3] Jan Christian Gertz et al., Purwa Pustaka (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2017), 517-518.
[4] Marc Zvi Bretller, How to read the Bible, (Philadelpia-Pennsilvania, Jewish Publication Society, 2010), 173.
[5] Dr. J. Bloomendaal, Pengantar Kepada Perjanjian Lama, (Jakarta, BPK Gunung Mulia, 2016), 119.
[6] W. S. Lasor dkk,.. 331.
[7] W. S. Lasor dkk,.. 335.
[8] Coogan, Michael D, A Brief Introduction to the Old Testament: The Hebrew Bible in Its Context, (Oxford UK, Oxford University Press, 2008), 299.

Minggu, 26 April 2020

Sikap Gereja dan Orang Percaya : Mengenai Pemikiran Falsafati Nietzsche

Sikap Gereja dan Orang Percaya : Mengenai Pemikiran Falsafati Nietzsche

            Sangat sulit untuk mengharmonisasikan pemahaman yang dimiliki oleh Nietzsche dengan paham yang dimiliki oleh gereja. Hal ini dikarenakan oleh pemikiran Nietzsche sendiri yang memiliki orientasi terhadap ateisme. Namun, hal ini tentunya masih memerlukan pengkajian lebih lanjut. Tujuannya adalah supaya gereja modern siap menghadapi pikiran filsafati ini.
            Adapun mengenai paham nihilisme yang dikembangkan oleh Nietzsche tentu saja tidak dapat diterima begitu saja oleh gereja. Sebagai perkumpulan orang percaya, keadaan nihilisme yang tak bermakna itu tentu saja merupakan hal yang kontroversial. Hal ini dikarenakan oleh prinsip nihilisme itu sendiri yang secara frontal menegaskan mengenai Tuhan yang telah mati.
            Tidak hanya itu saja, Nietzsche juga mendorong pemahaman materialisme yang mendorong manusia untuk mengandalkan diri sendiri ketimbang ajaran agama. Paham rasionalisme yang dimilikinya juga menjadi dasar manusia untuk mengandalkan akalnya. Pemahaman yang baru inilah yang nantinya harus dihadapi oleh gereja.
            Tentu saja gereja itu sendiri pada dasarnya memiliki prinsip untuk memperkenalkan ajaran Yesus terhadap semua orang. Ajaran gereja juga pada dasarnya bersifat eskatologis. Manusia didorong oleh gereja bukan untuk mengejar kepentingan duniawi melainkan kepentingan rohani. Perbedaan pemahaman inilah yang dapat berkonflik satu sama lain.
            Sikap yang harus diambil oleh gereja adalah sikap yang tegas. Di dalam menyikapi pemahaman falsafati ini, gereja harus memiliki keseimbangan ajaran yang diberikan kepada orang percaya. Keseimbangan ajaran ini artinya adalah supaya gereja dapat memimpin jemaatnya untuk memenuhi kebutuhan rohaninya tanpa mengabaikan pekerjaan duniawinya. Dengan melakukan hal tersebut, gereja dapat membuktikan dirinya sebagai sebuah institusi yang memiliki dasar yang kuat dan dapat bertahan melawan paham-paham yang dianggap berlawanan

Teologi Nasi Padang: Melihat Nasi Padang Sebagai Berkat Tuhan dari Perspektif Teologi Kristen

  oleh: Fregata "Hanya nasi Padang yang mengerti perasaanku" - Unknown - "AKU MAU NASI PADANG!!" - Sinetron Para...