KITAB
YEREMIA
A. Konteks Alkitab
Berdasarkan konteks sejarah kitab
Yeremia, kitab ini tidak disusun ke dalam urutan peristiwa yang kronologis
namun terdapat bagian sejarah yang menghubungkan zaman kitab ini ke dalam
pemerintahan Yosia hingga ke gubernur Gedalya.[1]
Selain itu kitab Yeremia juga memiliki struktur-struktur yang berbeda yang
disajikan ke dalam dua versi yaitu versi Ibrani dan Yunani. Menurut pemahaman
para ahli, versi Yunani lebih dipandang sebagai teks yang lebih orisinal dan
teks Ibrani sebagai perluasan dan perkembangan editorial.
Kitab Yeremia dapat dibagi kedalam
subkategori biografi, prosa, dan puisi. Ketiga sub kategori tersebut tentunya
dapat dijelaskan secara terpisah. Sebagai contoh, materi biografi yang dapat
ditemukan di dalam pasal 26-29, 32, dan 34-44 memiliki fokus terhadap kejadian
yang mengarah kepada keruntuhan kota Yerusalem pada penaklukan Babilonia.
Sedangkan bagian lainnya seperti muatan mengenai prosa seperti yang terdapat
pada pasal 7 dan 11:1-17 dapat ditemukan secara tersebar di keseluruhan kitab
tersebut.
Mengenai materi-materi puisi kitab
Yeremia, tentu saja materi ini memiliki keterkaitan yang kuat dan dapat dihubungkan kepada tradisi-tradisi
Yeremia. Materi puisi ini dapat ditemukan di dalam pasal 1-25 dan banyak
berisikan mengenai orakel-orakel dimana nabi Yeremia menyampaikan pesan yang
diberikan oleh Allah dimana dalam hal ini posisi Yeremia adalah sebagai
penyampai pesan dari Allah atau God's messenger. [2] Ketiga bagian ini juga merupakan bagian
yang penting dan tidak dapat dipisahkan dari studi mengenai kitab Yeremia itu
sendiri dan juga memiliki fungsi yang dapat dikatakan saling melengkapi.
B. Analisis Historis
dan Isu Utama Sejarah Penafsiran Kritis
Menurut Sigmund Mowinckel, kitab
Yeremia dibagi ke dalam 4 potongan sumber. Adapun pembagian ini juga
mendapatkan inspirasinya dari riset
pentateukhal dimana keempat sumber tersebut diurutkan sebagai sumber A, B, C,
dan D. Perlu diperhatikan juga bahwa menurut Thiel kitab Yeremia juga terdiri
dari 3 bagian yaitu teks Yeremia, teks redaksional deuteronomistik (D) dan teks
redaksional pasca deuteronomistik (PD). Selain pembagian tersebut, terdapat
pemahaman yang cukup unik dari para ahli dimana Yeremia tidak dihasilkan dari
sebuah editorial secara keseluruhan melainkan diisi oleh rangkaian editorial
kecil yang kemudian semakin bertambah menjadi satu kitab yang strukturnya cukup
kompleks.[3]
Perlu diperhatikan juga bahwa usaha penafsiran klasik yang
dilakukan oleh Duhm menghasilkan banyak perdebatan dikarenakan oleh
potongan-potongan radikal yang dikerjakannya. Namun, pekerjaan yang dilakukan
Duhm tersebut berhasil memulai penelitian terhadap analisa dan evaluasi
historis terhadap para nabi dan kisahnya. Hal ini dikarenakan oleh pendekatan
yang dimiliki oleh Duhm dimana ia memahami bahwa teks-teks yang terdapat di
dalam Alkitab tidak ditulis ke dalam suatu periode yang singkat melainkan
sebaliknya.
Perlu diperhatikan kembali mengenai kajian
historis yang dilakukan oleh Duhm. Pada dasarnya Duhm menafsirkan kitab ini
dengan memotong jumlah materi autentik yang dimiliki oleh nabi Yeremia.
Penafsiran pembagian ini kemudian dibagi menjadi kurang lebih seperempat dari
keseluruhan kitab tersebut. Tentu saja penafsiran tersebut awalnya dianggap
sebagai sebuah penafsiran yang radikal. Namun, pengembangan yang lebih lanjut
dapat membawa kembali kepada kesimpulan yang baru mengenai kitab Yeremia ini
secara keseluruhan. Studi ini juga banyak menghantarkan kepada studi-studi baru
kedepannya mengenai kitab Yeremia.
Latar
belakang sejarah terhadap kitab ini juga menunjukkan secara singkat di dalam
superskripsi kitab tersebut. Berdasarkan kitab ini, nabi Yeremia memulai
pelayanannya pada tahun ke-13 raja Yosia (627 SM) dan berakhir pada tahun ke-11
raja Zedekia (586 SM).[4]
Selama periode tersebut, kejadian penting yang menarik untuk diperhatikan
adalah dimana Asyur ditaklukkan oleh Babilonia hingga penaklukan yang dilakukan
oleh Mesir terhadap Babilonia dan juga berhasil menaklukkan kerajaan Yudea (605
SM). Latar belakang sejarah inilah yang dapat membantu untuk memahami urutan
kejadian yang terdapat di dalam kitab ini.
C.
Asal-Usul Kitab Yeremia
Teks kitab Yeremia yang dapat
dianggap sebagai teks yang tertua adalah pada bagian puisi yang terdapat di
pada Yeremia 1-25 dan 46-51. Teks ini berisikan ratapan dan konteks sejarahnya
sendiri dapat dihubungkan pada masa kehancuran Yehuda dan Yerusalem yang
terjadi pada tahun 587-586 SM. Dari kitab ratapan juga terdapat teks tuduhan
yang merupakan hasil dari ekpansi editorial tertulis. Bagian-bagian lainnya
yang juga terdapat di dalam pemahaman mengenai asal-usul kitab Yeremia adalah
mengenai materi narasi serta persoalan peredaksian deuteronomistik yang
terdapat di dalam kitab ini.
Pengakuan-pengakuan Yeremia juga terdapat di dalam kitab ini dan dapat
dibandingkan ke dalam ratapan Deutro-Yesaya.
Selain
itu, Kitab Yeremia yang berisikan 52 pasal ini awalnya memiliki sebuah gulungan
asli yang kemudian digantikan oleh gulungan baru yang dibacakan oleh nabi
Yeremia setelah gulungan yang asli tersebut dibakar oleh raja Yoyakim.[5]
Gulungan asli ini tentunya masih terdapat di dalam kitab Yesaya meskipun
bentuknya sendiri tidak dapat dianggap sebagai asli lagi. Gulungan tersebut
juga merupakan gulungan yang pendek dimana gulungan tersebut dibacakan sebanyak
sekali hingga dua kali sehari dihadapan raja termasuk pada pasal 46-49.
Di dalam pasal 21-23 terdapat
pernyataan yang cukup menarik yang terdapat di dalam kitab Yeremia ini. Isi
dari teks ini pada dasarnya berisikan mengenai kritikan yang diberikan oleh
nabi Yeremia terhadap keluarga istana raja Yehuda. Teks ini juga membuktikan
periode yang dimaksud di dalam kitab Yeremia yang pada dasarnya terjadi pada
periode pemerintahan raja Yoyakim. Teks ini merupakan salah satu teks yang
dianggap tua di kitab Yeremia.
Selain itu, pada tulisan yang
terdapat di Jeremiah 11:18–12.6, 15:10–21, 17:14–18, 18:18–23,
and 20:7–18 berisi mengenai keluhan nabi Yeremia terhadap
panggilan-panggilan yang dimilikinya serta kebencian yang harus ditanggung
olehnya. Keluhan ini dituliskan kedalam bentuk-bentuk ratapan individual yang
digemakan dan dapat disamakan di dalam kitab Mazmur. Namun dalam perbandingan
terhadap kitab Mazmur tersebut, terdapat sebuah realisasi dimana pengakuan
tersebut pada dasarnya memiliki bahasa dan kontruksi yang mengikuti sifat
konvensi formal. Pengakuan tersebut juga berisikan mengenai antagonisme yang
sangat kuat terhadap antara iman yang dimiliki oleh orang saleh dan orang yang
tidak beriman. Teks ini dianggap sebagai penghiburan redaksional yang
dilekatkan pada pribadi Yeremia.
D.
Teologi Kitab Yeremia
Terdapat beberapa paham teologis
penting yang perlu diperhatikan di dalam kitab Yeremia. Beberapa paham teologis
yang terdapat di dalamnya adalah sebagai berikut :
1.
Kekuasaan Allah di dalam Sejarah : Teologia Yeremia menekankan terhadap peristiwa
yang dihadapi oleh bangsa Israel merupakan bagian dari kekuasaan Allah yang
dianggap memiliki kekuasaan yang jauh lebih besar apabila dibandingkan dengan
politik manusia. Pada pemahaman teologi ini Yeremia juga menggunakan prinsip
mengenai berkat dan hukuman. Kekuasaan Allah juga banyak dinyatakan melalui
hukuman di dalam kitab ini.[6]
2.
Pertobatan : Dokumentasi kitab Yesaya pada dasarnya menceritakan mengenai
hilangnya kesempatan bagi bangsa Yehuda dan Yerusalem untuk melakukan
pertobatan. Yeremia juga memproklamasikan penghakiman dan peringatan sebagai
akibatnya. Yeremia kemudian berfokus kepada pertobatan yang dengan lambat
diperkuat pada masa periode pasca pembuangan di Babel. Etiologi mengenai
bencana alam nasional juga terdapat di kitab ini.
3.
Perjanjian Baru : Kitab Yeremia mengandung janji mengenai adanya sebuah perjanjian
baru yang terdapat di Yeremia 31:31-34. Janji ini pada dasarnya adalah mengenai
perjanjian yang diadakan oleh YHWH untuk menempatkan hukum pada bangsa Israel.
Perjanjian baru ini tentu saja dapat dipahami sebagai dasar dari
tradisi-tradisi Yeremia yang menggunakan sebuah argumentasi baru mengenai isi
teks tersebut yang bersifat terus terang.
4.
Penderitaan sang nabi : Kitab Yeremia juga mengekspresikan mengenai penderitaan
yang harus dihadapi oleh nabi Yeremia. Penekanan dari penderitaan ini juga
memiliki hubungan aktual dari Yeremia historis. Tema penderitaan ini tentu saja
telah banyak diadopsi dan dikembangkan lebih lanjut dan juga menghasilkan daya
tariknya tersendiri. Penderitaan ini juga tampaknya memiliki hubungan terhadap
pengakuan-pengakuan Yeremia.
5
Iman Pribadi yang kuat[7]
: Tema pengharapan ini tentunya adalah merupakan hasil dari dedikasi yang
dimililki oleh nabi Yeremia kehendak Allah. Selain itu, Yeremia juga banyak
menunjukkan adanya kepercayaan yang teguh terhadap kehendak dan kekuasaan yang
dimiliki oleh Allah. Sumber dari motivasi nabi Yeremia tersebut juga pada
dasarnya berasal dari kepercayaannya sendiri terhadap Allah dimana ia juga
bersifat optimis di dalam kepercayaannya. Tema ini juga banyak diperhatikan
oleh para ahli sebagai hal yang menarik di dalam Yeremia.
E.
Isi Kitab Yeremia
Isi yang terdapat di dalam kitab
Yeremia dapat dibagi berdasarkan enam kategori yang berbeda. Berikut ini adalah
pembagiannya beserta dengan pasal-pasal kitab tersebut. Pembagian-pembagian
lainnya yang dilakukan terhadap kitab ini juga dapat mengalami sedikit
perbedaan, namun pada dasarnya pembagian tersebut tetap memiliki inti pembagian
yang sama.[8]
1.
Pasal 1-25 : Pesan-pesan awal dan inti
dari pemberitaan yang dilakukan oleh Yeremia.
2.
Pasal 26-29 : Material mengenai biografi dan interaksi terhadap nabi-nabi
lainnya
3.
Pasal 30-33 : Janji Allah untuk memulihkan Yudea termasuk perjanjian baru
Yeremia.
4.
Pasal 34-45 : Interaksi dan hubungan dengan zedekia serta kejatuhan kota
Yerusalem.
5.
Pasal 46-51 : Hukuman-hukuman ilahi terhadap bangsa di sekitar wilayah Israel.
6.
Pasal 52 : Serangkaian lampiran yang
menceritakan kembali Raja-raja : 24:18-25:30.
Berdasarkan
isinya kitab Yeremia ingin membahas mengenai hukuman yang akan diberikan oleh Allah
apabila bangsa Israel tidak mendengar firman yang diberikan oleh Yeremia kepada
mereka. Yeremia juga menyempatkan posisinya di sini sebagai orang yang
menyampaikan pesan dari Allah. Yeremia sangat menentang praktik penyembahan
berhala yang pada saat itu sangat menyebar ditandai ditandai dengan ilah-ilah
atau kafir baru serta patung-patung berhala di Bait Suci. Yeremia juga dikenal
banyak memberi peringatan terhadap bangsa Israel dengan tujuan untuk membawa
bangsa tersebut ke dalam pertobatan yang total. Dengan melakukan pertobatan
inilah Yeremia pada dasarnya berharap untuk menghindari dan menyelamatkan
bangsa Israel dari penghukuman yang akan diberikan oleh Allah.
Menurut
kitab ini Yeremia adalah nabi yang dipilih langsung oleh Tuhan sejak ia masih
dalam kandungan ibunya namun masih banyak pertentangan yang terjadi karena
banyak nabi palsu yang memusuhi Yeremia. Pemandangan yang dimiliki oleh Nabi
Yeremia juga berada jauh ke depan kepada masa kembalinya Yehuda dari pembuangan
di mana Yeremia Berencana untuk memulai kehidupan yang baru di Palestina.
Selain itu tujuan lainnya yang dimiliki oleh Yeremia yaitu untuk memperbaiki
tatanan moral yang dianggap pada saat itu bobrok di Israel menjadi kembali ke
tatanan moral dimana bangsa Israel memiliki ketaatan terhadap Allah. Tujuan ini
juga merupakan tujuan yang sederhana namun sangat berpengaruh dan merupakan
tujuan sentral terhadap pelayanan yang dilakukan oleh Yeremia baik kepada
bangsa Israel maupun Allah.
[1] W.S Lasor dkk, Pengantar Perjanjian
Lama 2 : Sastra Dan Nubuat (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2019).
[2] Robert Davidson, "The
Book of Yeremiah". In Metzger, Bruce M.; Coogan, Michael D.
(eds.), (The Oxford Companion to the
Bible, Oxford University Press, 1993), 345-346.
[4] Marc Zvi Bretller, How to read
the Bible,
(Philadelpia-Pennsilvania, Jewish Publication Society, 2010), 173.
[6] W.
S. Lasor dkk,.. 331.
[7] W.
S. Lasor dkk,.. 335.
[8] Coogan, Michael D, A Brief
Introduction to the Old Testament: The Hebrew Bible in Its Context, (Oxford UK, Oxford University Press,
2008), 299.