Selasa, 31 Maret 2020

Fregata : Human


THE FOOLISHNESS OF MAN
How we perceive ourself as a human being
           
1. Man is not the most powerful species
The  foolishness of man. It was an unheard of until now, buy we can see it in front of our face. We used to think that we human as a species is the most powerful species. But we have to know that, we can be outperformed by some animals, some creatures that we think are lower than us. For example, some of us can not live a long  life like turtles do, or we just don’t have the ability to regrow our limbs like lizards do. However when we think about just how great we are, the truth is what I suppose more dire than it probably should be. We can also put it on our own perspective. In short, we have to accept that we have flaws.
2. Human’s behavior as we know it
When Charles Darwin created the theory of evolution, he did not just shakes the western world to it’s core, but he also create some more spaces for human to think of themselves. We used to be in comfort by ingesting easy information that are safe and harmless but also won’t cause any debates. But isn’t that how we live today as a society? We produce opinions, and thoughts but we hate it when someone has a different view. Especially if someone can prove that our opinions are wrong, we often hate that person more than his idea. In fact, we still hate it even though his idea just might contain a little bit of truth in itself that we just can not see.
We have to ask ourselves that, why do we hate questions? Why are we not open for debates? Why don’t we have more mannered discussions in our daily lives?  These are just some of retrospective questions that I can think of. However it goes without saying, that through a little thing called curiosity, we create questions. We start it with a sense of wanting to know about some information, or just because we have doubt over something that we just want to prove. We have our own sense of curiosity and with it we can also create our very own investigations or researches to find those information that will be beneficial for us. That is why I can say that without a lot of questions, knowledge will never be born.
3. The human ambitions
            Who, in their right minds, that doesn’t have any ambitions at all? I think we all have it in some way or another. I believe that we all try to pursue something that contains some sort of meaning to us. I think that is why we set our goals and we just want to achieve it with our own ways. We still do it with various plans be it right or wrong as long as it will take us to our destination. This is also why that we can see around us people who are just plain greedy, selfish, people whose ability to think about others are almost extinct. There are also people who prioritize themselves in order to get what they want. Their ambitions had corrupted their minds and moral judgement and it controls people to pursue their goals with any way whatsoever.
4 Judgement mentality
            We judge people on our daily basis. We have to accept that as a fact because no matter how much we tell to ourselves that we don’t or shouldn’t judge people, we will still do it. There are many reasons to it that are just too much to tell but we should know several things. When we interact with people who are different than us, we often thought about how we could probably be better than that person based on our differences. For a short example, people with more skill in a field would underestimate those whose skill are lower than them. This is wrong because those more skilled people just might have more experience than those with lower skill.
              This is our mentality, and it’s called judgement mentality. We have a mindset to judge people whether we do it consciously or not. It’s been settled in our mind since we were at a very young age. It has been said that we comfort ourselves by thinking that some people are worth lesser than us. We tell to ourselves that we are basically better than that person. This is where the problem comes in. If we keep on seeing the flaws of others around us, we cannot possibly see our own. This mentality is what I think to be the problem of our society.
           

Senin, 16 Maret 2020

Teologi Immanuel Kant Secara Ringkas

TEOLOGI IMMANUEL KANT
Pembahasan Secara Ringkas
Disusun oleh : Fregata 




A. PENGANTAR

            Nama Immanuel Kant banyak dikenali baik oleh kalangan para ahli maupun kalangan pelajar yang sedang mendalami dan meneliti studi filsafat. Studi yang dilakukannya pada masa renaisans memiliki dampak yang cukup luas bagi ilmu pengetahuan, terutama ilmu filsafat. Di dalam makalah ini, kelompok akan membahas mengenai pemikiran dan pemahaman yang dimiliki oleh Immanuel Kant terhadap ilmu teologi dan kemudian menambahkan pendapat kelompok. Pembahasan yang dilakukan oleh Kant mengenai teologi juga dapat dinilai dipelajari dari sudut pandang filosofis. Hal ini dikarenakan oleh karya tulis yang dimiliki oleh Kant kebanyakan bersifat filsafat. Pembahasan mengenai Kant dan ilmu teologi yang dicetuskannya adalah sebagai berikut.

B. PEMBAHASAN

A. Immanuel Kant : Mengenai Teolog

1. Biografi Singkat Immanuel Kant
Immanuel Kant adalah seorang filsuf besar yang pernah tampil dalam pentas pemikiran filosofis zaman Aufklarung Jerman menjelang akhir abad ke-18. Ia lahir pada tanggal 22 April 1724 di Konigsberg, sebuah kota kecil yang berada di Prussia Timur.Dan meninggal di Königsberg, Kerajaan Prusia, pada tanggal 12 Februari tahun 1804. Kota tersebut sekarang bernama Kaliningrad yang berada di Rusia.[1]
Immanuel kant adalah seorang yang dianggap sebagai filsuf terbesar diantara filsuf modern. Ia hidup pada saat masa pencerahan sedang berkembang dan akan segera mencapai puncaknya di Jerman. Padaabad ke-18 Eropa Barat mengalami zaman baru yang disebut dengan zaman pencerahan.Nama ini diberikan pada zaman ini karena manusia mulai mencari cahaya baru di dalam rasionya sendiri.
Kant adalah seorang anak yang terlahir di keluarga Kristen yang taat, dan dari sinilah latar belakang dari lahirnya pemikiran-pemikiran filosofisnya. Immanuel Kant memang tidak pernah pergi keluar negeri, ia juga tidak ikut andil dalam dunia politik namun dia dilatih dengan kejujuran yang sangat baik.Sejakumur 13 tahun ia telah ditinggal oleh ibunya dan disusul oleh ayahnya pada saat Kant berusia 22 tahun.[2]
Awalnya, Kant melanjutkan pendidikan kuliahnya dalam ilmu teologi, namun ia merasa bosan danmulai menumbuhkan sebuah ketertarikan terhadap ilmu pengetahuan ketika dia mulai membaca buku yang ditulis oleh Isaac Newton. Pendidikan kuliah ditempuhnya dengan sangat keras, hal ini dikarenakan oleh adanya keterbatasan keuangan yan dimilikinya. Namun, ia tidak menyerah sampai disitu saja. Immanuel Kant mulai kuliah sambil bekerja dan mengajar secara pribadi di beberapa tempat orang kaya di Prussia (sekarang jerman) pada waktu itu.
2. Beberapa Karya Tulis Immanuel Kant
            Semasa hidupnya, Kant dikenal melalui karya tulisnya yang fenomenal dan masih sering dibahas oleh para ahli di seluruh dunia. Beberapa dari karya tulis yang dikembangkan oleh Immanuel Kant juga menunjukkan pemikirannya yang cukup luas dan mendalam baik terhadap dunia filsafat maupun terhadap dunia teologi. Berapa dari pemahamannya yang cukup populer yaitu mengenai kritik yang dituliskannya terhadap dunia teologi dan filsafat, serta ilmu filsafat kritis yang dikembangkannya yang berasal dari data-data empiris. Beberapa judul dari buku yang ditulisnya adalah sebagai berikut.
           
Kant menulis beberapa seri pemahaman kritik yang ditulisnya pada tahun 1780an, beberapa diantaranya adalah Crtitique of Pure Reason (1781), Critique of Practical Reason (1788), dan Critique of Judgement (1790). Salah satu dari beberapa tulisannya yang cukup terkenal yang dipublikasikan dan masih dipelajari hingga sekarang adalah Logik (1800) Groundwork of the Ethical Philosophy (1785), dan Educational Theory of Immanuel Kant (1803). Sebagian  besar dari karya tulis tersebut dianggap memiliki pengaruh yang cukup signifikan bagi ilmu pengetahuan, khususnya ilmu filsafat.


B. Immanuel Kant : Teologi yang Dikembangkan
A. Ilmu Teologi
Sebelum kita mempelajari mengenai teologi yang dikembangkan oleh Immanuel Kant sebagai seorang teolog, kita perlu mengetahui secara mendasar mengenai apa itu teologi. Secara umum, teologi itu sendiri dapat dipahami sebagai sebuah ilmu yang membahas atau mempelajari Allah dan juga bahkan berpikit mengenai Allah itu sendiri.[3] Teologi juga bermaksud untuk mempelajari lebih dalam mengenai pemikiran yang dimiliki oleh manusia terhadap bagaimana cara manusia memahami adanya kuasa yang lebih besar darinya.
            Selain teologi menurut pengetahuan umum tersebut, perlu juga diketahui bahwa teologi merupakan sebuah ilmu yang juga bersifat empiris dan juga memiliki nilai-nilai filsafat.[4] Jadi dapat kita pahami bahwa teologi sebagai sebuah ilmu pengetahuan juga memiliki dasar serta bukti empirik yang jelas dan tidak didasari oleh spekulasi-spekulasi yang belum memiliki bukti yang mendukung. Pembelajaran terhadap teologi juga dilakukan dengan menggunakan metodenya sendiri dan juga bersifat konsisten.[5]
            Kita juga perlu mengetahui berdasarkan akar katanya, Teologi berasal dari kata Theos yang berarti Allah dan Logos yang berarti perkataan/firman. Berdasarkan pengertian akar kata tersebut, teologi juga dipahami sebagai ilmu yang ilmiah mengenai Allah atau ilah-ilah.[6] Ilmu teologi yang merupakan ilmu mengenai Allah ini dipandang sebagai sebuah usaha untuk memahami serta mencoba untuk mengerti Firman (perkataan) Allah.


B. Teologi dan Immanuel Kant
            Sebelum kita memulai untuk mempelajari mengenai Immanuel Kant dan teologi yang dikembangkannya, perlu diperhatikan juga bahwa terdapat beberapa aspek teologis di dalam pemahaman Kant yang perlu diketahui. Beberapa diantaranya adalah aspek pemikiran, sikap, sudut pandang dan aspek lainnya yang dimiliki oleh Kant yang mendasari pemikirannya terhadap teologi sebagai sebuah ilmu. Aspek dan pengertiannya dapat kita lihat pada bagian ini.

1.1 Teologi Transendental
            Sebelum kita mempelajari lebih lanjut mengenai inti dari pemahaman teologi yang dimiliki dan dikembangkan oleh Kant, kita perlu terlebih dahulu mengenal teologi transendental yang dikembangkannya. Istilah mengenai teologi transendental pertama kali diucapkan dan dikembangkan oleh Immanuel Kant.[7] Menurut pemahaman Kant, Theologi adalah sebuah ilmu yang dapat dihasilkan baik dari rasional murni (teologi rasionalis) ataupun dihasilkan dari sebuah revelasi (revelation, pengungkapan) manusia. Selain itu, Kant juga memahami teologi sebagai ilmu yang mempelajari sebuah objek, baik melalui rasional murni, maupun melalui konsep-konsep transendental itu sendiri. Teologi transendental juga memiliki jenisnya masing-masing.

            Teologi transendental ini juga menganggap eksistensi dari adanya diri dapat dianggap berangkat dari pengalaman secara umum. Hal ini disebut sebagai kosmoteologi, yang dipahami tanpa lebih dekat di dalam proses menentukan mengenai dunia dimana pengalaman ini terjadi.[8] Selain itu, Kant memperkenalkan istilah ontoteologi yang mempelajari adanya eksistensi di dalam dunia tanpa melalui bantuan dari adanya sebuah pengalaman dan hanya dilakukan dengan mempelajarinya melalui konsep saja.        

1.2 Konsep Tuhan Menurut Teologi Transendental
            Menurut Kant, kebanyakan orang memahami adanya konsep mengenai Tuhan sebagai sebuah asal muasal dari segala hal dan sebagai sebuah sosok yang abadi.[9] Selain itu, Tuhan juga dianggap sebagai pencipta segala hal menurut pemahaman dan kebebasan manusia. Kant juga mengganggap konsep tersebut sebagai konsep yang populer dan cukup menarik. Konsep teologis ini jugalah yang lebih banyak diyakini oleh masyarakat pada umumnya.
            Berdasarkan teologi Transendental yang dikembangkan oleh Kant, Kant mengkritisi sekaligus menyebutkan mengenai adanya teologi yang bersifat spekulatif bahwa orang yang memiliki pemahaman deist hanya mempercayai adanya Tuhan. Hal ini dengan jelas berlawanan dengan pemahaman theist yang mempercayai adanya Tuhan yang hidup (summa intelligentia).[10] Selain itu, Kant juga berargumentasi mengenai adanya teologi moral yang mengganggap dan memahami bahwa Tuhan merupakan pemerintahan yang tertinggi di dunia, yang memiliki hukum dan pemahaman moralnya sendiri.

1.3 Konsep Tuhan menurut Pemahaman Immanuel Kant
            Ilmu teologi pada dasarnya tentu tidak dapat dilepaskan dari pemahaman mengenai apa Tuhan dan seringkali disebut sebagai ilmu yang mempelajari mengenai ketuhanan itu sendiri. Pemahaman Kant mengenai Kant juga dapat dibagi ke dalam dua periode yang berbeda. Periode yang pertama yaitu pemahaman awal yang dimiliki oleh Kant yang ditulis pada awal hingga pertengahan tahun 1780-an. Periode awal ini juga dituliskan oleh Kant pada masa yang dapat dianggap sebagai masa mudanya yang cukup produktif dalam menghasilkan karya-karya tulis. Periode yang kedua dan terakhir yaitu pemahaman akhir Kant yang ditulis pada tahun 1800 sampai dengan tahun 1803. Pada pemahaman akhir ini, Kant menuliskan pemahamannya kembali mengenai Tuhan pada umur yang relatif tua.

1.3.1 Pemahaman Awal
            Pada pertengahan tahun 1780-an, Kant menuliskan mengenai konsep keberadaan Tuhan sebagai pengaruh yang buruk bagi pemikiran dan akal manusia (Abyss for human reason).[11] Hal ini dikarenakan oleh kritik yang dituliskan Kant terhadap konsep Tuhan yang tidak dapat dilogikakan oleh manusia. Pemahaman terhadap Tuhan yang berasal dari keabadian ke keabadian (Eternity to eternity) juga ditambahkan dan dianggap sebagai alasan bahwa manusia tidak dapat menolak atau mentoleransi pemikiran mengenai Tuhan.
            Konsep ini juga dianggap mendasari pemikiran Kant mengenai kepercayaannya kepada Tuhan dan pemahaman awalnya mengenai filsafat teologi.[12] Kant juga kemudian tetap berlanjut dalam mempercayai Tuhan dengan alasan bahwa Tuhan merupakan hal yang penting untuk pencapaian terhadap hal-hal yang bersifat baik. Namun, meskipun dengan kepercayaannya terhadap Tuhan, Kant merasa tidak puas dengan adanya gambaran metafisika Tuhan yang menentukan tindakan-tindakan manusia yang dianggapnya berlawanan dengan kebebasan.
1.3.2 Pemahaman Akhir
            Seiring berkembangnya pemikiran dan pengetahuan yang diperoleh Kant, terjadi sebuah transisi atau pergeseran mengenai pemahamannya yang mendasar mengenai konsep Ketuhanan pada akhir hidupnya.[13] Pada tahun 1800 sampai dengan tahun 1803, Kant menuliskan karya tulis yang bersifat fragmen-fragmen pada masa akhir hidupnya. Kant mempertanyakan secara berulang-ulang mengenai pertanyaan seperti: Apakah Tuhan itu ada? dan Dimanakah Tuhan?  Jawaban yang biasanya dicetuskan oleh Kant terhadap pertanyaan tersebut adalah “Tuhan ada di dalam akal, di dalam moral, dan di dalam diri kita. Pernyataan ini seringkali disimpulkan oleh para ahli sebagai sikapnya yang meragukan Tuhan ataupun manusia telah menjadi Tuhan bagi diri mereka sendiri.
2.1 Sikap dan Sudut Pandang Immanuel Kant Terhadap Teologi
            Di dalam pemahamannya mengenai ilmu teologi, Kant memiliki posisi, sikap dan sudut pandang yang cukup unik menurut para ahli. Kant dikenal sebagai ahli yang mengkritik pengertian yang sudah menjadi umum terhadap teologi, dan menambahkan pengertian tersebut melalui sudut pandang yang dimilikinya. Sikap Kant terhadap teologi tersebut juga perlu diperhatikan karena pada dasarnya sikap yang dimiliki oleh Kant mengandung nilai Empiris yang seringkali diteliti oleh para ahli.
2.1.1 Sikap Kant Terhadap Teologi
Berdasarkan buku yang ditulis oleh Immanuel Kant yang berjudul The Critique of Pure Reason, Kant menggambarkan adanya dampak dari filosofi yang pada dasarnya bersifat negatif terhadap disiplin ilmu teologi.[14] Selain itu, menurut buku the Critique of Pure Reason juga memutuskan segala akses terhadap segala jenis akses terhadap pengetahuan mengenai Tuhan, dan dengan cara tersebut, Kant tidak hanya menghancurkan dasar dari dogma metafisika, tapi juga dasar dari teologi yang bersifat positif.
2.1.2 Sudut Pandang Kant Terhadap Teologi
            Sudut pandang yang dimiliki oleh Immanuel Kant terhadap ilmu teologi adalah pemahamannya yang secara tradisonal yang juga kebanyakan bersifat agnostik terhadap eksistensi dan esensi terhadap Tuhan.[15] Meskipun Kant memiliki penolakan yang cukup kuat terhadap pengetahuan mengenai ketuhanan di dalam buku nya, konsep Tuhan selalu muncul di dalam analisis transendal Kant mengenai akal sebagai sebuah ide yang bersifat problematik namun juga memiliki signifikasi moral. Menurut Kant, akal manusia memiliki moral yang membutuhkan adanya keberadaan Tuhan, namun isi dari kepercayaan merupakan kepercayaan empiris yang tidak memiliki isi dan juga kosong.

3.1 Teologi Rasional
            Berdasarkan buku Religion and Rational.Theology, Kant menjabarkan mengenai teologi dan ilmu agama berdasarkan sudut pandang Rasional. Kant memahami adanya yang mahakuasa (supreme being) yang memiliki tiga posisi yang berbeda.[16] Ketiga posisi dan juga jabatan Tuhan menurut Kant tersebut memiliki tugas dan fungsi yang berbeda-beda, namun tetap saling mendukung. Posisi tersebut adalah sebagai berikut.

1. Pertama: Kesucian dari sang penulis dunia (author of the world), sebagai pemberi hukum (law giver) dan di dalam tindakannya sebagai oposisi terhadap kejahatan moral di dunia (opposition to the moral evil in the world).
2. Kedua: Dalam kemahakuasaannya (Godness), sebagai seorang yang berkuasa dan merawat dunia (ruler and preserver), yang kontras dengan penyakit yang dihadapi oleh makhluk hidup.
3.  Ketiga: Sebagai seorang hakim. Di dalam keadilan yang dimiliki olehnya, yang tentunya berbeda dan bertujuan untuk melawan terhadap kejahatan-kejahatan dan tindakan kriminal yang ada didunia.[17]

            Berdasarkan pemahaman Kant, ketiga posisi inilah yang dia percayai sebagai tugas Tuhan di dalam membantu kehidupan manusia. Kant menganggap bahwa akal manusia yang terbatas tidak akan bisa membuktikan adanya keberadaan Tuhan. Hal ini diatasi oleh Kant dengan cara memberikan idenya mengenai Tuhan sebagai sebuah symbol moral yang dibagi ke dalam tiga jenis tersebut.[18] Trinitas moral inilah yang menyebutkan dan mengkreditkan Tuhan sebagai pemberi hukum yang suci, penguasa yang baik secara moral, dan hakim yang adil.

C. PENUTUP
              Pembahasan secara singkat ini tentunya bisa diteliti secara lebih lanjut. Adapun isi dari tulisan ini hanya merupakan garis besar sederhana saja dan masih bisa dikembangkan lebih lanjut. Pemahaman selanjutnya mengenai Immanuel Kant tentunya sangat  menarik untuk dibahas. Terlebih lagi apabila teologinya dapat di kontekstualisasikan sesuai dengan sosial, politik, budaya bahkan teologi yang terdapat di Indonesia,

Fregata.



[1]Lili, Tjacjadi. Hukum Moral : Ajaran Immanuel Kant Tentang Etika dan Imperatif Kategoris, (Kanisius, Yogyakarta, 2015), 25.
[2] Lili, Tjacjadi. Hukum Moral : Ajaran Immanuel Kant.., 29.
[3] Paul Avis, Ambang Pintu Teologi, (BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2018), 2-3.
[4] Nico Syukur Dister, Pengantar Teologi, (Kanisius, Yogyakarta, 2017), 31-32.
[5] Nico Syukur Dister, Pengantar Teologi, 33.
[6] B. F. Drewes dan Julianus Mojau, Apa itu teologi? : Pengantar ke dalam ilmu Teologi, (BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2015), 16-17.
[7] Immanuel Kant, The Cambridge Edition of The Works of Imannuel Kant : Critique of Pure Reason, (Cambridge University Press,  New York USA, 1998), 583.
[8] Immanuel Kant, The Cambridge Edition.., 584-585.
[9] Immanuel Kant, The Cambridge Edition.., 585.
[10]  Immanuel Kant, The Cambridge Edition.., 586.
[11]  Christoper J. Insole, The Intolerable God: Kant's Theological Journey, (Wm. B. Eerdmans Publishing, Grand Rapids, Michigan, 2016), 17-18.
[12] Christoper J. Insole, The Intolerable God.., 19.
[13] Christoper J. Insole, The Intolerable God.., 20.
[14] Chris L. Firestone, Kant and Theology at the Boundaries of Reason, (Routledge, New York, 2016), 1.
[15] Chris L. Firestone, Kant and Theology.., 2-3.
[16] Immanuel Kant, The Cambridge Edition of The Works of Imannuel Kant : Religion and Rational Theology, (Cambridge University Press, New York USA, 1996), 24.
[17] Immanuel Kant, The Cambridge Edition.., 26.
[18]  Stephen Palmquist, "Kant's Perspectival Foundation for Critical Theology", Part Two of Kant's Critical Religion (Aldershot: Ashgate, 2000) 142.





Minggu, 15 Maret 2020

Catatan Singkat Sejarah Gereja Global


Catatan Singkat Sejarah Gereja Global
Dari Gereja abad pertama Hingga Teologi Gereja modern
Disusun oleh : Fregata


A. PENGANTAR SINGKAT

      Catatan ini dibuat secara ringkas namun tetap menyimpan intisari dari pelajaran aslinya. Adapun 
buku yang digunakan oleh penulis sebagai sumber dari tulisan ini adalah sebagai berikut :

1. Dr. C. De Jonge, Pembimbing ke Dalam Sejarah Gereja, (BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2019).
2. Thomas Van Den End, Harta dalam Bejana (BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2019).
3. H. Berkhof dan I.H. Enklaar, Sejarah Gereja (BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2018).

      Catatan ini berguna untuk memahami secara singkat mengenai garis besar sejarah gereja dengan menggabungkan pemahaman dari ketiga buku tersebut. Buku yang saya pakai memang merupakan buku terbitan yang masih baru, namun bahasa yang terdapat di dalam buku ini sangatlah terlihat bahwa bahasa dan gaya bahasa yang terdapat di dalamnya menyerupai edisi pertama buku ini diterbitkan (kebanyakan pada tahun 80an dan merupakan buku hasil terjemahan) sehingga agak membingungkan apabila dibandingkan dengan gaya bahasa sekarang (Contoh : Penggunaan kata "Eropah" dan "Positip" di dalam buku De Jonge). Catatan ini bermaksud untuk menyesuaikan pengertian dari buku tersebut ke dalam bahasa yang kita kenal sekarang.

B. PEMBAHASAN 



1. Gambaran periode sejarah gereja global menurut Christian De Jong



2. Pertumbuhan dan perkembangan abad awal Gereja
Timbulnya Gereja (30-313) : Gereja Mula-mula
            Jemaat awal gereja terdiri dari orang Yahudi, namun tersebar kepada non-Yahudi karena ajaran hukum taurat bagi gereja tidak dijadikan ajaran mutlak. Paulus menyebarkan pesan keselamatan ini supaya gereja tidak hanya menjadi mazhab Yahudi melainkan untuk menjadi agama segala bangsa. Selain itu, terjadi perluasan gereja. Gereja kemudian memperluas penyebarannya dari Palestina ke daerah sekitarnya. Termasuk mencapai daerah Eropa barat dan Asia kecil melalui penyebaran injil.
Pada awalnya gereja mendapatkan tekanan dan hambatan dari pemerintah Roma karena gereja bersifat monotheis. Hal ini membuat jemaat kristen dianggap sebagai musuh negara. Penghambatan bersifat lokal hingga tahun 250 namun kemudian meluas dan menjadi sistematis. penghambatan tersebut tidak menurunkan jumlah orang kristen, namun sebaliknya.
Pada masa gereja mula-mula, kepemimpinan gereja yang semula dipimpin oleh para rasul dialihkan kepada para Presbiteros (penatua) dan Episkopos (penilik jemaat)[1] dan dibantu dengan para Diakonos (pelayan, diakon, syamas). Gereja dipimpin oleh seorang Episkopos dan terdiri dari Presbuteros di bawahnya. Terdapat istilah succesio apostolic yang memahami bahwa para uskup adalah pengganti para rasul.

3. Perkembangan gereja hingga abad ke lima
A. Senjata-senjata Gereja: 150-200 (Kanon, Pengakuan iman, Jabatan uskup)
            Senjata gereja adalah alat yang digunakan oleh gereja untuk melawan sekta. Gereja dihadapkan dengan aliran sesat sehingga gereja harus memiliki identitasnya dan cirinya sendiri. Pada tahun 150-200 gereja berhasil dan menang melawan ajaran ini (kemenangan gereja).
1. Kanon : Kanon dapat diartikan sebagai patokan, ukuran atau kaidah. Adanya penetapan kanon perjanjian baru (sebelumnya hanya perjanjian lama) menghasilkan ajaran gereja yang memiliki kekuasaan.
2. Pengakuan Iman : Pengakuan secara tegas menolak ajaran sekta. Pengakuan iman pada dasarnya adalah pengakuan kepercayaan terhadap ajaran kristen mengenai Yesus (salah satunya adalah ajaran bahwa Yesus adalah Tuhan).
3. Pewarisan Jabatan : Bertujuan untuk memelihara ajaran kristen. Uskup dianggap memiliki kuasa yang sama dengan kanon dan Alkitab. Mereka jugalah yang mengajarkan mengenai Alkitab.

B. Penghambatan Gereja (Decius 249-Diocletianus 311)
            Penghambatan gereja dimulai pada abad ke-2 hingga tahun 313 dimana pemerintah Roma mulai menganggap orang kristen sebagai musuh negara karena orang kristen tidak menyembah dewa-dewi yang juga disembah oleh orang Roma. Penghambatan ini menghasilkan tindakan persekusi/penganiayaan terhadap orang Kristen, namun kemudian gagal dan malah semakin menambah jumlah orang yang percaya. Penghambatan ini berakhir setelah Konstantinus Agung (yang juga beragama kristen) merebut kekuasaan di Roma.

C. Perkembangan Gereja 313-590 (Gereja diakui oleh pemerintah Roma)
            Pada masa ini gereja sudah diakui oleh pemerintah Roma oleh Konstantinus. Gereja diakui pertama melalui edikt Milano (kebebasan gereja) dan kemudian edikt Theolosius oleh Theodosius (gereja sebagai agama negara). Gereja yang sudah diakui negara ini kemudian diberikan kebebasan oleh pemerintah dan memiliki hubungan erat dengan negara. Kekristenan pun kemudian diakui sebagai agama negara menggantikan agama Roma.
            Terdapat dua konsili oikumenis yaitu Konsili Nicea 325 dan Chalcedon 451. Konsili Nicea dan Konstantinopel membahas mengenai trinitas Tuhan. Konsili Chalcedon kemudian membahas mengenai dua tabiat Yesus (kristologi). Dari masa ini kemudian Paus semakin diakui sebagai pemimpin Eropa Barat menggantikan Kaisar Roma dan pada akhir abad ke-5 gereja sudah dibagi menjadi dua yaitu gereja barat dan gereja timur.

4. Identitas Gereja Barat dan Timur serta Ideologinya : Abad Pertengahan


1. Tata Gereja

Gereja Barat
Gereja Timur
-Paus di Roma sebagai pemimpin tertinggi.
-Perkataan Paus adalah mutlak.
-Episkopal di Konstantinopel : Berkuasa bersama jemaat.
-Keputusan melaui rapat para uskup.

2. Teologia dan Ajaran


-Pengaruh Agustinus dan Tertulianus
-Keselamatan melalui perbuatan baik
-Gereja mementingkan organisasi.
-Pengaruh Trenaeus, Athanasius dan Crylius.
-Berorientasi mistik dan perenungan sehingga manusia memiliki sifat Ilahi karna Tuhan masuk di tubuh yang fana
-Memiliki sifat beraskese

3. Sikap terhadap negara dan masyarakat

-Negara dianggap mengandung unsur setan yang harus diwaspadai masyarakat.
-Orang kristen bertindak di dalam dunia yang mengandung unsur setan.
-Berbudaya Latin
-Dalam negara orang kristen harus rendah hati dan merenungkan hidup.
-Pemerintah adalah wali Allah di dunia sehingga harus dihormati oleh rakyatnya.
-Berbudaya Yunani
Gereja Barat : Ambrosius (Uskup), Augustinus (penulis teologi gereja barat), Hieronimus (penerjemah Alkitab ke bahasa latin) dan Paulus (Rasul, dekat dengan ajaranYesus).
Gereja Timur : Bardaison (Bangsawan Persia, melawan marsionisme), Nestorius (uskup Konstantinopel, Nestorianisme), Cyrilius, Athanasius (Logos dan Allah yang dibedakan).[2]


5. Tahun Lahir Agama Islam dan Perkembangannya
Agama Islam lahir sesudah tahun 600 tepatnya pada tahun 632 setelah kematian Muhammad. Perkembangan agama Islam dimulai dari daerah Arabia dan dampaknya dikhawatirkan oleh orang kristen. Ancaman dari Agama Islam lebih dirasakan oleh gereja timur dibandingkan dengan gereja barat. Hal ini dikarenakan oleh pengaruh yang dimiliki Agama Islam terlebih dahulu mencapai gereja Timur dan sekitarnya, termasuk daerah Turki dan Konstantinopel. Agama Islam juga semakin menyebarkan pengaruhnya.
Sebelum adanya agama Islam, orang Kristen telah terlebih dahulu menyebarkan injil ke daerah Arabia dan Asia Tengah. Kemudian orang Arab menyerang negara yang berbatasan dengan Arabia, yaitu Persia dan Romawi Timur. Hal ini kemudian menyebar ke daerah di Asia Barat dan Afrika Utara yang penduduknya mayoritas beragama Kristen. Agama Islam juga kemudian mencapai Eropa (semenanjung Iberia, Portugal dan Spanyol). Kedudukan orang Kristen dibawah daerah yang dikuasai oleh orang Islam ini cukup baik, namun tidak mengalami perkembangan hingga jumlahnya merosot terutama di daerah Arabia.

6. Negara Eropa dibawah pengaruh islam (perang salib).
1. Perang Salib
Perang Salib terjadi dari tahun 1100-1300.[3] Latar belakang dari perang ini adalah perang untuk memperebutkan Yerusalem dari agama Islam dan bukan merupakan perluasan agama Kristen. Perang Salib terbagi ke dalam beberapa periode yaitu:
1. Perang Salib I : Pasukan perang salib ini dipimpin oleh Godfried. Pasukan perang salib ini berhasil menguasai Yerusalem dan wilayah sekitarnya (Asia kecil, Palestina, Siria). Perang salib pertama berakhir pada tahun 1099 setelah kejatuhan Yerusalem.
2. Perang Salib II : Perang ini dipimpin oleh Bernhard dari Clairvaux yang berlangsung dari tahun 1157-1149. Perang ini dianggap gagal karena terlebih dulu kalah di Damaskus, Siria.
3. Perang Salib III : Yerusalem direbut oleh Sultan Saladin dari mesir pada tahun 1187. Pasukan perang salib yang bertujuan untuk merebut Yerusalem dari kekuasaan mesir ini dipimpin oleh tiga raja. Ketiga raja tersebut adalah : Raja Inggris Richard the lionheart, Perancis Philip August dan Jerman Fredrik Barbarossa. Kematian raja Fredrik menjadi penyebab kegagalan perang ini.
4. Perang Salib IV : Dipimpin oleh Paus Innocentius III dengan maksud memajukan perniagaan Venetia yang bersaing dengan Byzantium.
5. Perang Salib V : Peperangan dilakukan oleh 30.000 anak-anak karena perang kurang disukai oleh orang dewasa. Perang ini gagal karena banyak anak yang mati dan dijadikan budak.
6. Perang Salib VI : Dipimpin oleh Fredrik II yang berhasil merebut Yerusalem, namun Yerusalem kembali jatuh ke tangan Islam pada tahun 1224.[4]
2. Dampak Perang Salib
            Dampak dari Perang Salib pada umumnya dipahami sebagai hal yang negatif dengan beberapa alasan. Kerusakan yang diakitbatkan oleh perang ini adalah akibat dari perampokan dan menyebabkan penderitaan bagi orang Kristen di Siria. Banyaknya kerusakan yang ditimbulkan oleh perang ini dapat disimpulkan sebagai alasan utama meskipun terdapat dampak-dampak lain disampingnya. Perang Salib juga akhirnya membawa perpecahan kepada gereja barat dan gereja timur.


7. Konteks sosial politik abad pertengahan (teolog berpengaruh dan ajarannya).
Masa abad pertengahan dapat dibagi menjadi tiga yaitu awal masa abad pertengahan, abad pertengahan yang jaya dan akhir dari abad pertengahan itu sendiri. Berikut adalah beberapa pengertian dari ketiga periode tersebut

1. Awal Abad Pertengahan 590-910
Pada masa ini penyebaran injil mulai dilakukan di daerah yang di kuasai oleh Romawi. Pada awal abad pertengahan ini ajaran kristen disebarkan di bagian utara dan timur laut Eropa dan daerah di timur tengah dan Afrika Utara mengalami ancaman oleh agama Islam. Selain itu penyelesaian mengenai perdebatan dogma melalui konsili oikumenis terjadi pada masa ini. Pada masa ini, kekuasaan politik Paus semakin menguat karena kekuasaan dari kekaisaran Roma barat semakin melemah.
2. Abad Pertengahan yang Jaya 910-1300
            Kejayaan abad pertengahan ditandai dengan adanya reformasi kebiaraa di Cluny, Perancis. Teologi yang berpengaruh pada masa ini adalah teologi skolastik yang dikemukakan oleh beberapa tokoh. Salah satunya adalah Anselmus dari Canterbury dan Thomas dari Aquinas. Pada masa ini Paus memiliki kuasa dan berusaha mempertahankannya.
3. Akhir Abad Pertengahan 1300-1492/1517
            Periode ini adalah peralihan dari masa kepausan ke era reformasi. Periode ini dimulai sesudah Paus Bonifatius (1300) dan diakhiri oleh masa reformasi (1517) atau pada tahun 1492. Pada masa ini terjadi krisis kepausan dan pembuangan terhadap Paus (seperti pembuangan babel) ke Avignon, Perancis. Pembuangan ini berlangsung dari 1309-1377. Krisis kepausan ini kemudian diperparah oleh munculnya dua orang Paus (di Roma dan Avignon) yang di dukung oleh pihak dan negara yang berbeda. Kejadian yang banyak merugikan gereja dan berdampak besar bagi masyarakat inilah yang kemudian mendorong adanya usaha untuk melakukan perbaikan terhadap institusi gereja atau melakukan reformasi.
           
8. Pemikir teologi abad modern[5]
            Pemikiran teologis ini terbagi ke dalam 3 zaman yaitu zaman Idealisme, Liberalisme dan Naturalisme atau Materialisme dan berlangsung pada abad ke-19.
a. Hegel (1831) : Idealisme Jerman. Pandangan yang bersifat konservatif dan memahami agama kristen sebagai agama yang tertinggi dari segala agama.
B. Friedrich Strauss (1874) : Menyerang injil dan kebenarannya. Paham yang memulai zaman liberalisme inilah yang mengkritisi kehidupan Yesus yang terdapat di dalam injil.
C. Tokoh pada zaman naturalisme ini mengutamakan kepada pengertian terhadap alam dan panca indra. Beberapa di antaranya adalah:
1. Charles Darwin (1882) : Berasal dari Inggris dan dikenal melalui teori evolusinya.
2. Karl Marx (1883) : Menganggap agama sebagai candu masyarakat, mengarah ke ateisme.
3. Friedrich Nietzsche (1900) : Nietzsche menolak ajaran injil karena pemahaman agama kristen dapat mengarahkan seseorang untuk menjadi budak.

C. PENUTUP
      Sebenarnya lebih disarankan untuk membaca buku sumber tulisan ini, daripada hanya membaca tulisan ini saja. Namun, tulisan ini saya rasa cukup untuk menjadi sekedar penghantar saja. Mengenai penelitian lebih lanjut mengenai bagian sejarah yang dianggap cukup unik ini bisa dilakukan melalui berbagai sumber. 

Fregata.



[1] Episkopos memiliki peran yang cukup penting di dalam jemaat. Pada dasarnya tugas yang dimiliki oleh Episkopos adalah untuk menjadi penilik jemaat dan juga menjadi pemimpin di dalam pelayanan sakramen. Lihat Christian de Jonge hlm 53.
[2] Para tokoh ini juga dapat disebutkan sebagai bapa gereja barat/timur.
[3] Menurut Van den End Perang Salib terjadi pada kurang lebih tahun 1050-1450.
[4] Berakhir secara tuntas pada tahun 1291 setelah Bandar Akko direbut oleh orang Islam.
[5] Lihat Berkhof, Hlm 267.


Intro : Sebuah Pengantar kepada Tulisan

INTRO
FREGATA, 15/03/2020
Tulisanku dan Aku : Bagaimana aku memaknainya

      Perlu diperhatikan juga bahwa, aku bukan penulis ahli. Menulis pun bagiku hanyalah coba-coba. Tetapi hal tersebut masih dapat kuanggap penting karena aku sendiri juga dihadapi dengan banyak tulisan. Tetapi aku adalah aku, sudut pandangku melebur menjadi satu di dalam perantara tulisan yang aku buat. Kelak biarlah tulisanku nantinya dapat meng-upgrade dirinya sendiri seiring bertambahnya waktu yang kucurahkan untuk menulis ini.
      Aku tidak ingin banyak berkata-kata, belum, belum waktunya. Bila nanti tulisan ini kelak dibaca akupun ingin supaya tulisan ini berguna. Meskipun lebih banyak yang ingin aku sampaikan, melebihi daripada apa yang aku tulis, aku ingin menyederhanakan saja. Supaya kelak nantinya aku pada beberapa masa yang akan datang mengerti, tujuan seperti apakah yang ingin aku capai dan pemikiran apakah yang telah aku hasilkan menurut pandanganku. Mengenai siapa aku rasanya tidak perlu. Karna prinsipku pemikiran dapat diambil tanpa harus memandang siapa orangnya. Jadi tulisan ini aku kerjakan secara anonim dibawah nama "Fregata" dengan beberapa alasan.

Jadi terimakasih,
dan selamat membaca.
Remember to read away and have a blast.

FREGATA

Teologi Nasi Padang: Melihat Nasi Padang Sebagai Berkat Tuhan dari Perspektif Teologi Kristen

  oleh: Fregata "Hanya nasi Padang yang mengerti perasaanku" - Unknown - "AKU MAU NASI PADANG!!" - Sinetron Para...