Sikap Gereja dan Orang Percaya : Mengenai Pemikiran
Falsafati Nietzsche
Sangat
sulit untuk mengharmonisasikan pemahaman yang dimiliki oleh Nietzsche dengan
paham yang dimiliki oleh gereja. Hal ini dikarenakan oleh pemikiran Nietzsche
sendiri yang memiliki orientasi terhadap ateisme. Namun, hal ini tentunya masih
memerlukan pengkajian lebih lanjut. Tujuannya adalah supaya gereja modern siap
menghadapi pikiran filsafati ini.
Adapun
mengenai paham nihilisme yang dikembangkan oleh Nietzsche tentu saja tidak
dapat diterima begitu saja oleh gereja. Sebagai perkumpulan orang percaya,
keadaan nihilisme yang tak bermakna itu tentu saja merupakan hal yang
kontroversial. Hal ini dikarenakan oleh prinsip nihilisme itu sendiri yang
secara frontal menegaskan mengenai Tuhan yang telah mati.
Tidak
hanya itu saja, Nietzsche juga mendorong pemahaman materialisme yang mendorong
manusia untuk mengandalkan diri sendiri ketimbang ajaran agama. Paham
rasionalisme yang dimilikinya juga menjadi dasar manusia untuk mengandalkan
akalnya. Pemahaman yang baru inilah yang nantinya harus dihadapi oleh gereja.
Tentu
saja gereja itu sendiri pada dasarnya memiliki prinsip untuk memperkenalkan
ajaran Yesus terhadap semua orang. Ajaran gereja juga pada dasarnya bersifat
eskatologis. Manusia didorong oleh gereja bukan untuk mengejar kepentingan
duniawi melainkan kepentingan rohani. Perbedaan pemahaman inilah yang dapat
berkonflik satu sama lain.
Sikap yang harus diambil oleh gereja
adalah sikap yang tegas. Di dalam menyikapi pemahaman falsafati ini, gereja harus
memiliki keseimbangan ajaran yang diberikan kepada orang percaya. Keseimbangan ajaran
ini artinya adalah supaya gereja dapat memimpin jemaatnya untuk memenuhi kebutuhan
rohaninya tanpa mengabaikan pekerjaan duniawinya. Dengan melakukan hal tersebut,
gereja dapat membuktikan dirinya sebagai sebuah institusi yang memiliki dasar yang
kuat dan dapat bertahan melawan paham-paham yang dianggap berlawanan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar