SURAT
ROMA
Ajaran dan Peringatan Rasul Paulus kepada Jemaat Kristen di Roma
A.
Pendahuluan
Paulus dikreditkan sebagai penulis
dari surat ini dilihat dari pembuka surat tersebut (Rom 1:1) dimana Paulus
menyatakan dirinya sebagai seorang hamba yang kemudian dijadikan sebagai Rasul
oleh Yesus. Meskipun Paulus menyatakan dirinya sebagai penulis surat ini,
Paulus tidak menulis langsung surat tersebut melainkan melalui perantara
Tertulius yang menyebutkan mengenai dirinya sendiri di Roma 16:22. Mengenai
tujuan dari surat ini dapat dipastikan tujuannya kepada jemaat Kristen di Roma
(Roma 1:7). Dilihat dari isi surat ini, Paulus banyak memberikan ajaran,
nasehat maupun peringatan kepada jemaat di Roma. Sebagian kecil dari ajaran dan
peringatan Paulus inilah yang nantinya akan dilihat lebih lanjut untuk
mengetahui lebih luas baik mengenai ajaran Kristen yang disampaikan oleh Paulus
itu sendiri maupun keadaan jemaat Roma pada waktu itu.
B.
Pengajaran dari Paulus
Surat Roma banyak memiliki
ajaran-ajaran maupun nasehat kepada jemaat Roma yang berasal dari rasul Paulus.
Paulus menuliskan ajaran tersebut dengan tujuan untuk mengatasi kebingungan
yang terjadi di tengah jemaat Roma mengenai hal-hal dasar seperti injil untuk
orang yang bukan Yahudi, bagaimana cara berperilaku dan bersikap serta ajaran
dan nasehat lainnya yang dapat ditemukan di dalam surat ini secara keseluruhan.
1. Hukum Taurat dan Sunat (2:17-29)
Berdasarkan Roma 2:17-29. Paulus
menegaskan mengenai hukum taurat dan sunat yang tidak akan menyelamatkan orang
Yahudi. Paulus menjelaskan mengenai beberapa teguran terhadap orang Yahudi yang
masih terlalu bersandar kepada Hukum Taurat. Tampaknya juga Paulus melihat
adanya kemunafikan di tengah orang-orang Yahudi tersebut (2:22) yang mengetahui
isi dari Hukum Taurat namun dengan sadar melanggar hukum tersebut. Selain itu
Paulus di dalam suratnya Roma 2:25 juga menjelaskan mengenai kesia-siaan
seseorang yang disunat apabila dia melanggar hukum taurat tersebut.
2. Pembenaran Manusia atas dasar Iman (3:21-31)
Paulus menegaskan bahwa pada
dasarnya manusia adalah makhluk yang berdosa dan telah kehilangan kemuliaan
Allah (3:23). Oleh karena seluruh umat manusia dinyatakan berdosa, maka manusia
membutuhkan adanya pembenaran di dalam dirinya. Oleh karena hal tersebutlah
Paulus menjelaskan kembali mengenai Yesus sebagai seorang penebus dan manusia
yang dibenarkan oleh iman. Hal ini dipertegas kembali di Roma 3:27 yang
menyatakan bahwa dasar keselamatan adalah iman dan bukan perbuatan seseorang.
Paulus menjelaskan pengertian ini dengan isinya yang bersifat universal baik
bagi orang Yahudi maupun non-Yahudi. Namun meskipun mempercayai iman, Paulus
tidak membatalkan Hukum Taurat (3:31).
3. Hasil dari Pembenaran (5:1-11)
Pada bagian dari suratnya ini Paulus
kemudian menjelaskan hasil dari orang yanng percaya dan dibenarkan oleh Yesus
Kristus. Hasil-hasil dari pembenaran tersebut adalah beroleh hidup damai
sejahtera (5:1), menerima kemuliaan yang berasal dari Allah (5:2), diselamatkan
dari murka Allah (5:9), serta dapat bermegah di dalam Allah (5:11). Perlu
diperhatikan kembali bahwa hasil dari pembenaran tesebut hanya dapat dilakukan
apabila manusia mendapatkan pembenaran tersebut melalui imannya kepada Yesus
Kristus (5:1) sebagai satu-satunya jalan masuk bagi iman kepada kasih karunia
(5:2).
4. Persembahan yang benar (12:1-8)
Dari ayatnya yang pertama dapat
diketahui bahwa Paulus menasihati jemaat Roma untuk dapat memberikan
persembahan yang benar kepada Allah. Menurut surat ini, persembahan yang benar
adalah persembahan tubuh sebagai persembahan yang hidup, kudus dan berkenan
kepada Allah. Persembahan inilah yang dapat disebutkan sebagai ibadah yang
sejati. Paulus juga meminta jemaat Roma untuk memikirkan mengenai apa yang
benar berdasarkan kehendak Allah (12:2). Paulus juga mendorong jemaat tersebut
untuk saling menasihati dan mengajar satu sama lain apabila diberikan karunia
untuk melakukan hal tersebut (12:7-8).
C.
Peringatan dari Paulus
Selain beberapa nasihat dan ajaran
yang diberikan oleh Paulus, terdapat juga beberapa teguran dan bahkan
peringatan yang ditujukannya kepada jemaat di Roma. Peringatan ini pada dasarnya
berisikan mengenai kewaspadaan terhadap ajaran-ajaran yang sesat dan hukuman
Allah kepada manusia yang diakibatkan oleh kefasikan manusia tersebut. Tujuan
dari peringatan ini adalah untuk menghindari jemaat Roma dari perpecahan yang
dapat ditimbulkan dari ajaran-ajaran sesat tersebut. Peringatan yang diberikan
oleh Paulus adalah sebagai berikut.
1. Peringatan terhadap Ajaran Sesat
(16:17-24)
Paulus memperingatkan kepada jemaat
Roma untuk menghindari ajaran-ajaran sesat yang berbeda dengan pengajaran yang
sudah mereka terima sebelumnya. Hal ini dikarenakan oleh ajaran sesat tersebut
berasal dari orang yang tidak melayani Yesus. Paulus mengetahui bahwa jemaat di
Roma adalah jemaat yang taat (16:19), namun Paulus tetap meminta kepada jemaat
tersebut untuk tetap bijaksana dalam perilakunya. Peringatan ini cukup singkat
dan kemudian diakhiri dengan pengucapan salam kepada rekan kerja Paulus dalam
penginjilan juga ada di bagian terakhir surat Roma ini.
2. Peringatan akan Hukuman Allah
(1:18-32)
Hukuman Allah yang dimaksud oleh
paulus adalah murka-Nya yang disebabkan oleh kefasikan dan kelaliman manusia
(1:18). Selain itu, peringatan ini juga berlaku kepada orang yang mengenal
Allah namun perilakunya tidak memuliakan-Nya (1:21). Peringatan ini bersifat
tegas dimana Allah memiliki kuasa untuk memberikan hukuman-Nya kepada manusia
yang memang jahat di dalam perilakunya. Bahkan serangkaian peringatan ini juga
menyebutkan mengenai hukuman mati bagi mereka yang mengetahui tuntutan Allah
namun dalam perilakunya berbuat hal yang tidak dikehendaki oleh Allah (1:32).
B.
Penutup
Dengan memahami ajaran serta peringatan yang
diberikan oleh Paulus kepada jemaat di Roma, diharapkan kedua hal tersebut
dapat direfleksikan kepada kehidupan kita yang sekarang. Dengan memahami surat
Roma juga kita dapat mengerti bagaiman jemaat Roma tetap bertahan dan memegang
iman Kristennya dan berperilaku sebagaiman orang Kristen yang seharusnya. Hal
ini tentu penting karena ajaran serta peringatan tersebut dapat dikatakan masih
berlaku hingga sekarang kepada kita sebagai orang Kristen yang telah menerima
pembenaran oleh Yesus.
Bahan bacaan :
Marxsen, Willi, Pengantar Perjanjian Baru : Pendekatan Kritis Terhadap Masalah-Masalahnya, BPK-GM, Jakarta, 2009.
Hakh, Samuel B, Perjanjian Baru : Sejarah, Pengantar dan Pokok-Pokok Teologisnya, BPK-GM, Jakarta, 2019.
Chapman, Adina, Pengantar Perjanjian Baru, Yayasan Kalam Hidup, Bandung, 1980.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar