Selasa, 13 Oktober 2020

Surat Roma : Ajaran dan Peringatan Paulus kepada Jemaat Kristen di Roma

 

SURAT ROMA

 Ajaran dan  Peringatan Rasul Paulus kepada Jemaat Kristen di Roma

A. Pendahuluan

            Paulus dikreditkan sebagai penulis dari surat ini dilihat dari pembuka surat tersebut (Rom 1:1) dimana Paulus menyatakan dirinya sebagai seorang hamba yang kemudian dijadikan sebagai Rasul oleh Yesus. Meskipun Paulus menyatakan dirinya sebagai penulis surat ini, Paulus tidak menulis langsung surat tersebut melainkan melalui perantara Tertulius yang menyebutkan mengenai dirinya sendiri di Roma 16:22. Mengenai tujuan dari surat ini dapat dipastikan tujuannya kepada jemaat Kristen di Roma (Roma 1:7). Dilihat dari isi surat ini, Paulus banyak memberikan ajaran, nasehat maupun peringatan kepada jemaat di Roma. Sebagian kecil dari ajaran dan peringatan Paulus inilah yang nantinya akan dilihat lebih lanjut untuk mengetahui lebih luas baik mengenai ajaran Kristen yang disampaikan oleh Paulus itu sendiri maupun keadaan jemaat Roma pada waktu itu.

B. Pengajaran dari Paulus

            Surat Roma banyak memiliki ajaran-ajaran maupun nasehat kepada jemaat Roma yang berasal dari rasul Paulus. Paulus menuliskan ajaran tersebut dengan tujuan untuk mengatasi kebingungan yang terjadi di tengah jemaat Roma mengenai hal-hal dasar seperti injil untuk orang yang bukan Yahudi, bagaimana cara berperilaku dan bersikap serta ajaran dan nasehat lainnya yang dapat ditemukan di dalam surat ini secara keseluruhan.

1. Hukum Taurat dan Sunat (2:17-29)

            Berdasarkan Roma 2:17-29. Paulus menegaskan mengenai hukum taurat dan sunat yang tidak akan menyelamatkan orang Yahudi. Paulus menjelaskan mengenai beberapa teguran terhadap orang Yahudi yang masih terlalu bersandar kepada Hukum Taurat. Tampaknya juga Paulus melihat adanya kemunafikan di tengah orang-orang Yahudi tersebut (2:22) yang mengetahui isi dari Hukum Taurat namun dengan sadar melanggar hukum tersebut. Selain itu Paulus di dalam suratnya Roma 2:25 juga menjelaskan mengenai kesia-siaan seseorang yang disunat apabila dia melanggar hukum taurat tersebut.

2. Pembenaran Manusia atas dasar Iman (3:21-31)

            Paulus menegaskan bahwa pada dasarnya manusia adalah makhluk yang berdosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah (3:23). Oleh karena seluruh umat manusia dinyatakan berdosa, maka manusia membutuhkan adanya pembenaran di dalam dirinya. Oleh karena hal tersebutlah Paulus menjelaskan kembali mengenai Yesus sebagai seorang penebus dan manusia yang dibenarkan oleh iman. Hal ini dipertegas kembali di Roma 3:27 yang menyatakan bahwa dasar keselamatan adalah iman dan bukan perbuatan seseorang. Paulus menjelaskan pengertian ini dengan isinya yang bersifat universal baik bagi orang Yahudi maupun non-Yahudi. Namun meskipun mempercayai iman, Paulus tidak membatalkan Hukum Taurat (3:31).

3. Hasil dari Pembenaran (5:1-11)

            Pada bagian dari suratnya ini Paulus kemudian menjelaskan hasil dari orang yanng percaya dan dibenarkan oleh Yesus Kristus. Hasil-hasil dari pembenaran tersebut adalah beroleh hidup damai sejahtera (5:1), menerima kemuliaan yang berasal dari Allah (5:2), diselamatkan dari murka Allah (5:9), serta dapat bermegah di dalam Allah (5:11). Perlu diperhatikan kembali bahwa hasil dari pembenaran tesebut hanya dapat dilakukan apabila manusia mendapatkan pembenaran tersebut melalui imannya kepada Yesus Kristus (5:1) sebagai satu-satunya jalan masuk bagi iman kepada kasih karunia (5:2).

4. Persembahan yang benar (12:1-8)

            Dari ayatnya yang pertama dapat diketahui bahwa Paulus menasihati jemaat Roma untuk dapat memberikan persembahan yang benar kepada Allah. Menurut surat ini, persembahan yang benar adalah persembahan tubuh sebagai persembahan yang hidup, kudus dan berkenan kepada Allah. Persembahan inilah yang dapat disebutkan sebagai ibadah yang sejati. Paulus juga meminta jemaat Roma untuk memikirkan mengenai apa yang benar berdasarkan kehendak Allah (12:2). Paulus juga mendorong jemaat tersebut untuk saling menasihati dan mengajar satu sama lain apabila diberikan karunia untuk melakukan hal tersebut (12:7-8).

C. Peringatan dari Paulus

            Selain beberapa nasihat dan ajaran yang diberikan oleh Paulus, terdapat juga beberapa teguran dan bahkan peringatan yang ditujukannya kepada jemaat di Roma. Peringatan ini pada dasarnya berisikan mengenai kewaspadaan terhadap ajaran-ajaran yang sesat dan hukuman Allah kepada manusia yang diakibatkan oleh kefasikan manusia tersebut. Tujuan dari peringatan ini adalah untuk menghindari jemaat Roma dari perpecahan yang dapat ditimbulkan dari ajaran-ajaran sesat tersebut. Peringatan yang diberikan oleh Paulus adalah sebagai berikut.

            1. Peringatan terhadap Ajaran Sesat (16:17-24)

            Paulus memperingatkan kepada jemaat Roma untuk menghindari ajaran-ajaran sesat yang berbeda dengan pengajaran yang sudah mereka terima sebelumnya. Hal ini dikarenakan oleh ajaran sesat tersebut berasal dari orang yang tidak melayani Yesus. Paulus mengetahui bahwa jemaat di Roma adalah jemaat yang taat (16:19), namun Paulus tetap meminta kepada jemaat tersebut untuk tetap bijaksana dalam perilakunya. Peringatan ini cukup singkat dan kemudian diakhiri dengan pengucapan salam kepada rekan kerja Paulus dalam penginjilan juga ada di bagian terakhir surat Roma ini.

            2. Peringatan akan Hukuman Allah (1:18-32)

            Hukuman Allah yang dimaksud oleh paulus adalah murka-Nya yang disebabkan oleh kefasikan dan kelaliman manusia (1:18). Selain itu, peringatan ini juga berlaku kepada orang yang mengenal Allah namun perilakunya tidak memuliakan-Nya (1:21). Peringatan ini bersifat tegas dimana Allah memiliki kuasa untuk memberikan hukuman-Nya kepada manusia yang memang jahat di dalam perilakunya. Bahkan serangkaian peringatan ini juga menyebutkan mengenai hukuman mati bagi mereka yang mengetahui tuntutan Allah namun dalam perilakunya berbuat hal yang tidak dikehendaki oleh Allah (1:32).

B. Penutup

            Dengan  memahami ajaran serta peringatan yang diberikan oleh Paulus kepada jemaat di Roma, diharapkan kedua hal tersebut dapat direfleksikan kepada kehidupan kita yang sekarang. Dengan memahami surat Roma juga kita dapat mengerti bagaiman jemaat Roma tetap bertahan dan memegang iman Kristennya dan berperilaku sebagaiman orang Kristen yang seharusnya. Hal ini tentu penting karena ajaran serta peringatan tersebut dapat dikatakan masih berlaku hingga sekarang kepada kita sebagai orang Kristen yang telah menerima pembenaran oleh Yesus.

Bahan bacaan :

Marxsen, Willi, Pengantar Perjanjian Baru : Pendekatan Kritis Terhadap Masalah-Masalahnya, BPK-GM, Jakarta, 2009.

Hakh, Samuel B, Perjanjian Baru : Sejarah, Pengantar dan Pokok-Pokok Teologisnya, BPK-GM, Jakarta, 2019.

Chapman, Adina, Pengantar Perjanjian Baru, Yayasan Kalam Hidup, Bandung, 1980.

           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Teologi Nasi Padang: Melihat Nasi Padang Sebagai Berkat Tuhan dari Perspektif Teologi Kristen

  oleh: Fregata "Hanya nasi Padang yang mengerti perasaanku" - Unknown - "AKU MAU NASI PADANG!!" - Sinetron Para...