TEOLOGI IMMANUEL KANT
Pembahasan Secara Ringkas
Disusun oleh : Fregata
A. PENGANTAR
Nama
Immanuel Kant banyak dikenali baik oleh kalangan para ahli maupun kalangan
pelajar yang sedang mendalami dan meneliti studi filsafat. Studi yang
dilakukannya pada masa renaisans memiliki dampak yang cukup luas bagi ilmu
pengetahuan, terutama ilmu filsafat. Di dalam makalah ini, kelompok akan
membahas mengenai pemikiran dan pemahaman yang dimiliki oleh Immanuel Kant
terhadap ilmu teologi dan kemudian menambahkan pendapat kelompok. Pembahasan
yang dilakukan oleh Kant mengenai teologi juga dapat dinilai dipelajari dari
sudut pandang filosofis. Hal ini dikarenakan oleh karya tulis yang dimiliki
oleh Kant kebanyakan bersifat filsafat. Pembahasan mengenai Kant dan ilmu
teologi yang dicetuskannya adalah sebagai berikut.
B. PEMBAHASAN
A. Immanuel Kant
: Mengenai Teolog
1. Biografi Singkat Immanuel Kant
Immanuel Kant
adalah seorang filsuf besar yang pernah tampil dalam pentas pemikiran filosofis
zaman Aufklarung Jerman menjelang akhir abad ke-18. Ia lahir pada tanggal
22 April 1724 di Konigsberg, sebuah kota kecil yang berada di Prussia Timur.Dan meninggal
di Königsberg, Kerajaan Prusia, pada tanggal 12 Februari tahun 1804. Kota tersebut sekarang bernama
Kaliningrad yang berada di Rusia.[1]
Immanuel kant
adalah seorang yang dianggap sebagai filsuf terbesar diantara filsuf modern. Ia
hidup pada saat masa pencerahan sedang berkembang dan akan segera mencapai
puncaknya di Jerman. Padaabad ke-18 Eropa Barat mengalami zaman baru yang
disebut dengan zaman pencerahan.Nama ini diberikan pada zaman ini karena manusia
mulai mencari cahaya baru di dalam rasionya sendiri.
Kant adalah
seorang anak yang terlahir di keluarga Kristen yang taat, dan dari sinilah
latar belakang dari lahirnya pemikiran-pemikiran filosofisnya. Immanuel Kant
memang tidak pernah pergi keluar negeri, ia juga tidak ikut andil dalam dunia
politik namun dia dilatih dengan kejujuran yang sangat baik.Sejakumur 13 tahun
ia telah ditinggal oleh ibunya dan disusul oleh ayahnya pada saat Kant berusia
22 tahun.[2]
Awalnya, Kant
melanjutkan pendidikan kuliahnya dalam ilmu teologi, namun ia merasa bosan
danmulai menumbuhkan sebuah ketertarikan terhadap ilmu pengetahuan ketika dia
mulai membaca buku yang ditulis oleh Isaac Newton. Pendidikan kuliah
ditempuhnya dengan sangat keras, hal ini dikarenakan oleh adanya keterbatasan
keuangan yan dimilikinya. Namun, ia tidak menyerah sampai disitu saja. Immanuel
Kant mulai kuliah sambil bekerja dan mengajar secara pribadi di beberapa tempat
orang kaya di Prussia (sekarang jerman) pada waktu itu.
2. Beberapa Karya Tulis Immanuel Kant
Semasa hidupnya, Kant
dikenal melalui karya tulisnya yang fenomenal dan masih sering dibahas oleh
para ahli di seluruh dunia. Beberapa dari karya tulis yang dikembangkan oleh
Immanuel Kant juga menunjukkan pemikirannya yang cukup luas dan mendalam baik
terhadap dunia filsafat maupun terhadap dunia teologi. Berapa dari pemahamannya
yang cukup populer yaitu mengenai kritik yang dituliskannya terhadap dunia
teologi dan filsafat, serta ilmu filsafat kritis yang dikembangkannya yang
berasal dari data-data empiris. Beberapa judul dari buku yang ditulisnya adalah
sebagai berikut.
Kant menulis beberapa seri pemahaman kritik yang
ditulisnya pada tahun 1780an, beberapa diantaranya adalah Crtitique of Pure Reason (1781), Critique of Practical Reason (1788), dan Critique of Judgement (1790). Salah satu dari beberapa tulisannya
yang cukup terkenal yang dipublikasikan dan masih dipelajari hingga sekarang
adalah Logik (1800) Groundwork of the
Ethical Philosophy (1785), dan Educational Theory of Immanuel Kant (1803).
Sebagian besar dari karya tulis tersebut
dianggap memiliki pengaruh yang cukup signifikan bagi ilmu pengetahuan,
khususnya ilmu filsafat.
B. Immanuel Kant : Teologi yang Dikembangkan
A. Ilmu Teologi
Sebelum kita mempelajari mengenai teologi yang
dikembangkan oleh Immanuel Kant sebagai seorang teolog, kita perlu mengetahui
secara mendasar mengenai apa itu teologi. Secara umum, teologi itu sendiri
dapat dipahami sebagai sebuah ilmu yang membahas atau mempelajari Allah dan
juga bahkan berpikit mengenai Allah itu sendiri.[3] Teologi juga bermaksud
untuk mempelajari lebih dalam mengenai pemikiran yang dimiliki oleh manusia
terhadap bagaimana cara manusia memahami adanya kuasa yang lebih besar darinya.
Selain teologi menurut
pengetahuan umum tersebut, perlu juga diketahui bahwa teologi merupakan sebuah
ilmu yang juga bersifat empiris dan juga memiliki nilai-nilai filsafat.[4] Jadi dapat kita pahami
bahwa teologi sebagai sebuah ilmu pengetahuan juga memiliki dasar serta bukti
empirik yang jelas dan tidak didasari oleh spekulasi-spekulasi yang belum
memiliki bukti yang mendukung. Pembelajaran terhadap teologi juga dilakukan
dengan menggunakan metodenya sendiri dan juga bersifat konsisten.[5]
Kita juga perlu
mengetahui berdasarkan akar katanya, Teologi berasal dari kata Theos yang
berarti Allah dan Logos yang berarti perkataan/firman. Berdasarkan pengertian
akar kata tersebut, teologi juga dipahami sebagai ilmu yang ilmiah mengenai
Allah atau ilah-ilah.[6] Ilmu teologi yang
merupakan ilmu mengenai Allah ini dipandang sebagai sebuah usaha untuk memahami
serta mencoba untuk mengerti Firman (perkataan) Allah.
B. Teologi dan Immanuel Kant
Sebelum kita memulai
untuk mempelajari mengenai Immanuel Kant dan teologi yang dikembangkannya,
perlu diperhatikan juga bahwa terdapat beberapa aspek teologis di dalam
pemahaman Kant yang perlu diketahui. Beberapa diantaranya adalah aspek
pemikiran, sikap, sudut pandang dan aspek lainnya yang dimiliki oleh Kant yang
mendasari pemikirannya terhadap teologi sebagai sebuah ilmu. Aspek dan
pengertiannya dapat kita lihat pada bagian ini.
1.1 Teologi Transendental
Sebelum kita
mempelajari lebih lanjut mengenai inti dari pemahaman teologi yang dimiliki dan
dikembangkan oleh Kant, kita perlu terlebih dahulu mengenal teologi
transendental yang dikembangkannya. Istilah mengenai teologi transendental
pertama kali diucapkan dan dikembangkan oleh Immanuel Kant.[7] Menurut pemahaman Kant,
Theologi adalah sebuah ilmu yang dapat dihasilkan baik dari rasional murni
(teologi rasionalis) ataupun dihasilkan dari sebuah revelasi (revelation, pengungkapan) manusia.
Selain itu, Kant juga memahami teologi sebagai ilmu yang mempelajari sebuah
objek, baik melalui rasional murni, maupun melalui konsep-konsep transendental
itu sendiri. Teologi transendental juga memiliki jenisnya masing-masing.
Teologi transendental
ini juga menganggap eksistensi dari adanya diri dapat dianggap berangkat dari
pengalaman secara umum. Hal ini disebut sebagai kosmoteologi, yang dipahami
tanpa lebih dekat di dalam proses menentukan mengenai dunia dimana pengalaman
ini terjadi.[8]
Selain itu, Kant memperkenalkan istilah ontoteologi yang mempelajari adanya
eksistensi di dalam dunia tanpa melalui bantuan dari adanya sebuah pengalaman
dan hanya dilakukan dengan mempelajarinya melalui konsep saja.
1.2 Konsep Tuhan Menurut Teologi Transendental
Menurut Kant,
kebanyakan orang memahami adanya konsep mengenai Tuhan sebagai sebuah asal
muasal dari segala hal dan sebagai sebuah sosok yang abadi.[9] Selain itu, Tuhan juga
dianggap sebagai pencipta segala hal menurut pemahaman dan kebebasan manusia.
Kant juga mengganggap konsep tersebut sebagai konsep yang populer dan cukup
menarik. Konsep teologis ini jugalah yang lebih banyak diyakini oleh masyarakat
pada umumnya.
Berdasarkan teologi
Transendental yang dikembangkan oleh Kant, Kant mengkritisi sekaligus
menyebutkan mengenai adanya teologi yang bersifat spekulatif bahwa orang yang
memiliki pemahaman deist hanya
mempercayai adanya Tuhan. Hal ini dengan jelas berlawanan dengan pemahaman theist yang mempercayai adanya Tuhan
yang hidup (summa intelligentia).[10]
Selain itu, Kant juga berargumentasi mengenai adanya teologi moral yang
mengganggap dan memahami bahwa Tuhan merupakan pemerintahan yang tertinggi di
dunia, yang memiliki hukum dan pemahaman moralnya sendiri.
1.3 Konsep Tuhan menurut Pemahaman Immanuel Kant
Ilmu teologi pada
dasarnya tentu tidak dapat dilepaskan dari pemahaman mengenai apa Tuhan dan
seringkali disebut sebagai ilmu yang mempelajari mengenai ketuhanan itu
sendiri. Pemahaman Kant mengenai Kant juga dapat dibagi ke dalam dua periode
yang berbeda. Periode yang pertama yaitu pemahaman awal yang dimiliki oleh Kant
yang ditulis pada awal hingga pertengahan tahun 1780-an. Periode awal ini juga
dituliskan oleh Kant pada masa yang dapat dianggap sebagai masa mudanya yang
cukup produktif dalam menghasilkan karya-karya tulis. Periode yang kedua dan
terakhir yaitu pemahaman akhir Kant yang ditulis pada tahun 1800 sampai dengan
tahun 1803. Pada pemahaman akhir ini, Kant menuliskan pemahamannya kembali
mengenai Tuhan pada umur yang relatif tua.
1.3.1 Pemahaman Awal
Pada pertengahan tahun
1780-an, Kant menuliskan mengenai konsep keberadaan Tuhan sebagai pengaruh yang
buruk bagi pemikiran dan akal manusia (Abyss
for human reason).[11]
Hal ini dikarenakan oleh kritik yang dituliskan Kant terhadap konsep Tuhan yang
tidak dapat dilogikakan oleh manusia. Pemahaman terhadap Tuhan yang berasal
dari keabadian ke keabadian (Eternity to
eternity) juga ditambahkan dan dianggap sebagai alasan bahwa manusia tidak
dapat menolak atau mentoleransi pemikiran mengenai Tuhan.
Konsep ini juga
dianggap mendasari pemikiran Kant mengenai kepercayaannya kepada Tuhan dan
pemahaman awalnya mengenai filsafat teologi.[12] Kant juga kemudian tetap
berlanjut dalam mempercayai Tuhan dengan alasan bahwa Tuhan merupakan hal yang
penting untuk pencapaian terhadap hal-hal yang bersifat baik. Namun, meskipun
dengan kepercayaannya terhadap Tuhan, Kant merasa tidak puas dengan adanya
gambaran metafisika Tuhan yang menentukan tindakan-tindakan manusia yang
dianggapnya berlawanan dengan kebebasan.
1.3.2 Pemahaman Akhir
Seiring berkembangnya
pemikiran dan pengetahuan yang diperoleh Kant, terjadi sebuah transisi atau
pergeseran mengenai pemahamannya yang mendasar mengenai konsep Ketuhanan pada
akhir hidupnya.[13]
Pada tahun 1800 sampai dengan tahun 1803, Kant menuliskan karya tulis yang
bersifat fragmen-fragmen pada masa akhir hidupnya. Kant mempertanyakan secara
berulang-ulang mengenai pertanyaan seperti: Apakah Tuhan itu ada? dan Dimanakah
Tuhan? Jawaban yang biasanya dicetuskan
oleh Kant terhadap pertanyaan tersebut adalah “Tuhan ada di dalam akal, di
dalam moral, dan di dalam diri kita. Pernyataan ini seringkali disimpulkan oleh
para ahli sebagai sikapnya yang meragukan Tuhan ataupun manusia telah menjadi
Tuhan bagi diri mereka sendiri.
2.1 Sikap dan Sudut Pandang Immanuel Kant Terhadap Teologi
Di dalam pemahamannya
mengenai ilmu teologi, Kant memiliki posisi, sikap dan sudut pandang yang cukup
unik menurut para ahli. Kant dikenal sebagai ahli yang mengkritik pengertian
yang sudah menjadi umum terhadap teologi, dan menambahkan pengertian tersebut
melalui sudut pandang yang dimilikinya. Sikap Kant terhadap teologi tersebut
juga perlu diperhatikan karena pada dasarnya sikap yang dimiliki oleh Kant
mengandung nilai Empiris yang seringkali diteliti oleh para ahli.
2.1.1 Sikap Kant Terhadap Teologi
Berdasarkan buku yang ditulis oleh Immanuel Kant yang
berjudul The Critique of Pure Reason, Kant
menggambarkan adanya dampak dari filosofi yang pada dasarnya bersifat negatif
terhadap disiplin ilmu teologi.[14]
Selain itu, menurut buku the Critique of
Pure Reason juga memutuskan segala akses terhadap segala jenis akses
terhadap pengetahuan mengenai Tuhan, dan dengan cara tersebut, Kant tidak hanya
menghancurkan dasar dari dogma metafisika, tapi juga dasar dari teologi yang
bersifat positif.
2.1.2 Sudut Pandang Kant Terhadap
Teologi
Sudut pandang yang dimiliki oleh
Immanuel Kant terhadap ilmu teologi adalah pemahamannya yang secara tradisonal
yang juga kebanyakan bersifat agnostik terhadap eksistensi dan esensi terhadap
Tuhan.[15]
Meskipun Kant memiliki penolakan yang cukup kuat terhadap pengetahuan mengenai
ketuhanan di dalam buku nya, konsep Tuhan selalu muncul di dalam analisis
transendal Kant mengenai akal sebagai sebuah ide yang bersifat problematik
namun juga memiliki signifikasi moral. Menurut Kant, akal manusia memiliki
moral yang membutuhkan adanya keberadaan Tuhan, namun isi dari kepercayaan
merupakan kepercayaan empiris yang tidak memiliki isi dan juga kosong.
3.1 Teologi Rasional
Berdasarkan
buku Religion and Rational.Theology, Kant
menjabarkan mengenai teologi dan ilmu agama berdasarkan sudut pandang Rasional.
Kant memahami adanya yang mahakuasa (supreme being) yang memiliki tiga posisi
yang berbeda.[16] Ketiga
posisi dan juga jabatan Tuhan menurut Kant tersebut memiliki tugas dan fungsi
yang berbeda-beda, namun tetap saling mendukung. Posisi tersebut adalah sebagai
berikut.
1. Pertama: Kesucian
dari sang penulis dunia (author of the
world), sebagai pemberi hukum (law
giver) dan di dalam tindakannya sebagai oposisi terhadap kejahatan moral di
dunia (opposition to the moral evil in
the world).
2. Kedua: Dalam
kemahakuasaannya (Godness), sebagai
seorang yang berkuasa dan merawat dunia (ruler and preserver), yang kontras
dengan penyakit yang dihadapi oleh makhluk hidup.
3. Ketiga: Sebagai seorang hakim. Di dalam
keadilan yang dimiliki olehnya, yang tentunya berbeda dan bertujuan untuk
melawan terhadap kejahatan-kejahatan dan tindakan kriminal yang ada didunia.[17]
Berdasarkan
pemahaman Kant, ketiga posisi inilah yang dia percayai sebagai tugas Tuhan di
dalam membantu kehidupan manusia. Kant menganggap bahwa akal manusia yang
terbatas tidak akan bisa membuktikan adanya keberadaan Tuhan. Hal ini diatasi
oleh Kant dengan cara memberikan idenya mengenai Tuhan sebagai sebuah symbol moral
yang dibagi ke dalam tiga jenis tersebut.[18]
Trinitas moral inilah yang menyebutkan dan mengkreditkan Tuhan sebagai pemberi
hukum yang suci, penguasa yang baik secara moral, dan hakim yang adil.
C. PENUTUP
Pembahasan secara singkat ini tentunya bisa diteliti secara lebih lanjut. Adapun isi dari tulisan ini hanya merupakan garis besar sederhana saja dan masih bisa dikembangkan lebih lanjut. Pemahaman selanjutnya mengenai Immanuel Kant tentunya sangat menarik untuk dibahas. Terlebih lagi apabila teologinya dapat di kontekstualisasikan sesuai dengan sosial, politik, budaya bahkan teologi yang terdapat di Indonesia,
Fregata.
[1]Lili,
Tjacjadi. Hukum Moral : Ajaran Immanuel
Kant Tentang Etika dan Imperatif Kategoris, (Kanisius, Yogyakarta, 2015),
25.
[2] Lili,
Tjacjadi. Hukum Moral : Ajaran Immanuel
Kant.., 29.
[3]
Paul Avis, Ambang Pintu Teologi, (BPK
Gunung Mulia, Jakarta, 2018), 2-3.
[4] Nico Syukur Dister, Pengantar Teologi, (Kanisius,
Yogyakarta, 2017), 31-32.
[5] Nico Syukur Dister, Pengantar Teologi, 33.
[6] B. F. Drewes dan Julianus Mojau, Apa itu teologi? : Pengantar ke dalam ilmu
Teologi, (BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2015), 16-17.
[7]
Immanuel Kant, The Cambridge Edition of
The Works of Imannuel Kant : Critique of Pure Reason, (Cambridge University
Press, New York USA, 1998), 583.
[8]
Immanuel Kant, The Cambridge Edition..,
584-585.
[9]
Immanuel Kant, The Cambridge Edition..,
585.
[10] Immanuel Kant, The Cambridge Edition.., 586.
[11] Christoper J. Insole, The
Intolerable God: Kant's Theological Journey, (Wm. B. Eerdmans Publishing,
Grand Rapids, Michigan, 2016), 17-18.
[14] Chris L. Firestone, Kant and Theology at the Boundaries of
Reason, (Routledge, New York, 2016), 1.
[16]
Immanuel
Kant, The Cambridge Edition of The Works
of Imannuel Kant : Religion and Rational Theology, (Cambridge University
Press, New York USA, 1996), 24.
[17]
Immanuel
Kant, The Cambridge Edition.., 26.
[18] Stephen
Palmquist, "Kant's Perspectival Foundation for Critical Theology",
Part Two of Kant's Critical Religion (Aldershot: Ashgate,
2000) 142.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar