Senin, 16 Maret 2020

Teologi Immanuel Kant Secara Ringkas

TEOLOGI IMMANUEL KANT
Pembahasan Secara Ringkas
Disusun oleh : Fregata 




A. PENGANTAR

            Nama Immanuel Kant banyak dikenali baik oleh kalangan para ahli maupun kalangan pelajar yang sedang mendalami dan meneliti studi filsafat. Studi yang dilakukannya pada masa renaisans memiliki dampak yang cukup luas bagi ilmu pengetahuan, terutama ilmu filsafat. Di dalam makalah ini, kelompok akan membahas mengenai pemikiran dan pemahaman yang dimiliki oleh Immanuel Kant terhadap ilmu teologi dan kemudian menambahkan pendapat kelompok. Pembahasan yang dilakukan oleh Kant mengenai teologi juga dapat dinilai dipelajari dari sudut pandang filosofis. Hal ini dikarenakan oleh karya tulis yang dimiliki oleh Kant kebanyakan bersifat filsafat. Pembahasan mengenai Kant dan ilmu teologi yang dicetuskannya adalah sebagai berikut.

B. PEMBAHASAN

A. Immanuel Kant : Mengenai Teolog

1. Biografi Singkat Immanuel Kant
Immanuel Kant adalah seorang filsuf besar yang pernah tampil dalam pentas pemikiran filosofis zaman Aufklarung Jerman menjelang akhir abad ke-18. Ia lahir pada tanggal 22 April 1724 di Konigsberg, sebuah kota kecil yang berada di Prussia Timur.Dan meninggal di Königsberg, Kerajaan Prusia, pada tanggal 12 Februari tahun 1804. Kota tersebut sekarang bernama Kaliningrad yang berada di Rusia.[1]
Immanuel kant adalah seorang yang dianggap sebagai filsuf terbesar diantara filsuf modern. Ia hidup pada saat masa pencerahan sedang berkembang dan akan segera mencapai puncaknya di Jerman. Padaabad ke-18 Eropa Barat mengalami zaman baru yang disebut dengan zaman pencerahan.Nama ini diberikan pada zaman ini karena manusia mulai mencari cahaya baru di dalam rasionya sendiri.
Kant adalah seorang anak yang terlahir di keluarga Kristen yang taat, dan dari sinilah latar belakang dari lahirnya pemikiran-pemikiran filosofisnya. Immanuel Kant memang tidak pernah pergi keluar negeri, ia juga tidak ikut andil dalam dunia politik namun dia dilatih dengan kejujuran yang sangat baik.Sejakumur 13 tahun ia telah ditinggal oleh ibunya dan disusul oleh ayahnya pada saat Kant berusia 22 tahun.[2]
Awalnya, Kant melanjutkan pendidikan kuliahnya dalam ilmu teologi, namun ia merasa bosan danmulai menumbuhkan sebuah ketertarikan terhadap ilmu pengetahuan ketika dia mulai membaca buku yang ditulis oleh Isaac Newton. Pendidikan kuliah ditempuhnya dengan sangat keras, hal ini dikarenakan oleh adanya keterbatasan keuangan yan dimilikinya. Namun, ia tidak menyerah sampai disitu saja. Immanuel Kant mulai kuliah sambil bekerja dan mengajar secara pribadi di beberapa tempat orang kaya di Prussia (sekarang jerman) pada waktu itu.
2. Beberapa Karya Tulis Immanuel Kant
            Semasa hidupnya, Kant dikenal melalui karya tulisnya yang fenomenal dan masih sering dibahas oleh para ahli di seluruh dunia. Beberapa dari karya tulis yang dikembangkan oleh Immanuel Kant juga menunjukkan pemikirannya yang cukup luas dan mendalam baik terhadap dunia filsafat maupun terhadap dunia teologi. Berapa dari pemahamannya yang cukup populer yaitu mengenai kritik yang dituliskannya terhadap dunia teologi dan filsafat, serta ilmu filsafat kritis yang dikembangkannya yang berasal dari data-data empiris. Beberapa judul dari buku yang ditulisnya adalah sebagai berikut.
           
Kant menulis beberapa seri pemahaman kritik yang ditulisnya pada tahun 1780an, beberapa diantaranya adalah Crtitique of Pure Reason (1781), Critique of Practical Reason (1788), dan Critique of Judgement (1790). Salah satu dari beberapa tulisannya yang cukup terkenal yang dipublikasikan dan masih dipelajari hingga sekarang adalah Logik (1800) Groundwork of the Ethical Philosophy (1785), dan Educational Theory of Immanuel Kant (1803). Sebagian  besar dari karya tulis tersebut dianggap memiliki pengaruh yang cukup signifikan bagi ilmu pengetahuan, khususnya ilmu filsafat.


B. Immanuel Kant : Teologi yang Dikembangkan
A. Ilmu Teologi
Sebelum kita mempelajari mengenai teologi yang dikembangkan oleh Immanuel Kant sebagai seorang teolog, kita perlu mengetahui secara mendasar mengenai apa itu teologi. Secara umum, teologi itu sendiri dapat dipahami sebagai sebuah ilmu yang membahas atau mempelajari Allah dan juga bahkan berpikit mengenai Allah itu sendiri.[3] Teologi juga bermaksud untuk mempelajari lebih dalam mengenai pemikiran yang dimiliki oleh manusia terhadap bagaimana cara manusia memahami adanya kuasa yang lebih besar darinya.
            Selain teologi menurut pengetahuan umum tersebut, perlu juga diketahui bahwa teologi merupakan sebuah ilmu yang juga bersifat empiris dan juga memiliki nilai-nilai filsafat.[4] Jadi dapat kita pahami bahwa teologi sebagai sebuah ilmu pengetahuan juga memiliki dasar serta bukti empirik yang jelas dan tidak didasari oleh spekulasi-spekulasi yang belum memiliki bukti yang mendukung. Pembelajaran terhadap teologi juga dilakukan dengan menggunakan metodenya sendiri dan juga bersifat konsisten.[5]
            Kita juga perlu mengetahui berdasarkan akar katanya, Teologi berasal dari kata Theos yang berarti Allah dan Logos yang berarti perkataan/firman. Berdasarkan pengertian akar kata tersebut, teologi juga dipahami sebagai ilmu yang ilmiah mengenai Allah atau ilah-ilah.[6] Ilmu teologi yang merupakan ilmu mengenai Allah ini dipandang sebagai sebuah usaha untuk memahami serta mencoba untuk mengerti Firman (perkataan) Allah.


B. Teologi dan Immanuel Kant
            Sebelum kita memulai untuk mempelajari mengenai Immanuel Kant dan teologi yang dikembangkannya, perlu diperhatikan juga bahwa terdapat beberapa aspek teologis di dalam pemahaman Kant yang perlu diketahui. Beberapa diantaranya adalah aspek pemikiran, sikap, sudut pandang dan aspek lainnya yang dimiliki oleh Kant yang mendasari pemikirannya terhadap teologi sebagai sebuah ilmu. Aspek dan pengertiannya dapat kita lihat pada bagian ini.

1.1 Teologi Transendental
            Sebelum kita mempelajari lebih lanjut mengenai inti dari pemahaman teologi yang dimiliki dan dikembangkan oleh Kant, kita perlu terlebih dahulu mengenal teologi transendental yang dikembangkannya. Istilah mengenai teologi transendental pertama kali diucapkan dan dikembangkan oleh Immanuel Kant.[7] Menurut pemahaman Kant, Theologi adalah sebuah ilmu yang dapat dihasilkan baik dari rasional murni (teologi rasionalis) ataupun dihasilkan dari sebuah revelasi (revelation, pengungkapan) manusia. Selain itu, Kant juga memahami teologi sebagai ilmu yang mempelajari sebuah objek, baik melalui rasional murni, maupun melalui konsep-konsep transendental itu sendiri. Teologi transendental juga memiliki jenisnya masing-masing.

            Teologi transendental ini juga menganggap eksistensi dari adanya diri dapat dianggap berangkat dari pengalaman secara umum. Hal ini disebut sebagai kosmoteologi, yang dipahami tanpa lebih dekat di dalam proses menentukan mengenai dunia dimana pengalaman ini terjadi.[8] Selain itu, Kant memperkenalkan istilah ontoteologi yang mempelajari adanya eksistensi di dalam dunia tanpa melalui bantuan dari adanya sebuah pengalaman dan hanya dilakukan dengan mempelajarinya melalui konsep saja.        

1.2 Konsep Tuhan Menurut Teologi Transendental
            Menurut Kant, kebanyakan orang memahami adanya konsep mengenai Tuhan sebagai sebuah asal muasal dari segala hal dan sebagai sebuah sosok yang abadi.[9] Selain itu, Tuhan juga dianggap sebagai pencipta segala hal menurut pemahaman dan kebebasan manusia. Kant juga mengganggap konsep tersebut sebagai konsep yang populer dan cukup menarik. Konsep teologis ini jugalah yang lebih banyak diyakini oleh masyarakat pada umumnya.
            Berdasarkan teologi Transendental yang dikembangkan oleh Kant, Kant mengkritisi sekaligus menyebutkan mengenai adanya teologi yang bersifat spekulatif bahwa orang yang memiliki pemahaman deist hanya mempercayai adanya Tuhan. Hal ini dengan jelas berlawanan dengan pemahaman theist yang mempercayai adanya Tuhan yang hidup (summa intelligentia).[10] Selain itu, Kant juga berargumentasi mengenai adanya teologi moral yang mengganggap dan memahami bahwa Tuhan merupakan pemerintahan yang tertinggi di dunia, yang memiliki hukum dan pemahaman moralnya sendiri.

1.3 Konsep Tuhan menurut Pemahaman Immanuel Kant
            Ilmu teologi pada dasarnya tentu tidak dapat dilepaskan dari pemahaman mengenai apa Tuhan dan seringkali disebut sebagai ilmu yang mempelajari mengenai ketuhanan itu sendiri. Pemahaman Kant mengenai Kant juga dapat dibagi ke dalam dua periode yang berbeda. Periode yang pertama yaitu pemahaman awal yang dimiliki oleh Kant yang ditulis pada awal hingga pertengahan tahun 1780-an. Periode awal ini juga dituliskan oleh Kant pada masa yang dapat dianggap sebagai masa mudanya yang cukup produktif dalam menghasilkan karya-karya tulis. Periode yang kedua dan terakhir yaitu pemahaman akhir Kant yang ditulis pada tahun 1800 sampai dengan tahun 1803. Pada pemahaman akhir ini, Kant menuliskan pemahamannya kembali mengenai Tuhan pada umur yang relatif tua.

1.3.1 Pemahaman Awal
            Pada pertengahan tahun 1780-an, Kant menuliskan mengenai konsep keberadaan Tuhan sebagai pengaruh yang buruk bagi pemikiran dan akal manusia (Abyss for human reason).[11] Hal ini dikarenakan oleh kritik yang dituliskan Kant terhadap konsep Tuhan yang tidak dapat dilogikakan oleh manusia. Pemahaman terhadap Tuhan yang berasal dari keabadian ke keabadian (Eternity to eternity) juga ditambahkan dan dianggap sebagai alasan bahwa manusia tidak dapat menolak atau mentoleransi pemikiran mengenai Tuhan.
            Konsep ini juga dianggap mendasari pemikiran Kant mengenai kepercayaannya kepada Tuhan dan pemahaman awalnya mengenai filsafat teologi.[12] Kant juga kemudian tetap berlanjut dalam mempercayai Tuhan dengan alasan bahwa Tuhan merupakan hal yang penting untuk pencapaian terhadap hal-hal yang bersifat baik. Namun, meskipun dengan kepercayaannya terhadap Tuhan, Kant merasa tidak puas dengan adanya gambaran metafisika Tuhan yang menentukan tindakan-tindakan manusia yang dianggapnya berlawanan dengan kebebasan.
1.3.2 Pemahaman Akhir
            Seiring berkembangnya pemikiran dan pengetahuan yang diperoleh Kant, terjadi sebuah transisi atau pergeseran mengenai pemahamannya yang mendasar mengenai konsep Ketuhanan pada akhir hidupnya.[13] Pada tahun 1800 sampai dengan tahun 1803, Kant menuliskan karya tulis yang bersifat fragmen-fragmen pada masa akhir hidupnya. Kant mempertanyakan secara berulang-ulang mengenai pertanyaan seperti: Apakah Tuhan itu ada? dan Dimanakah Tuhan?  Jawaban yang biasanya dicetuskan oleh Kant terhadap pertanyaan tersebut adalah “Tuhan ada di dalam akal, di dalam moral, dan di dalam diri kita. Pernyataan ini seringkali disimpulkan oleh para ahli sebagai sikapnya yang meragukan Tuhan ataupun manusia telah menjadi Tuhan bagi diri mereka sendiri.
2.1 Sikap dan Sudut Pandang Immanuel Kant Terhadap Teologi
            Di dalam pemahamannya mengenai ilmu teologi, Kant memiliki posisi, sikap dan sudut pandang yang cukup unik menurut para ahli. Kant dikenal sebagai ahli yang mengkritik pengertian yang sudah menjadi umum terhadap teologi, dan menambahkan pengertian tersebut melalui sudut pandang yang dimilikinya. Sikap Kant terhadap teologi tersebut juga perlu diperhatikan karena pada dasarnya sikap yang dimiliki oleh Kant mengandung nilai Empiris yang seringkali diteliti oleh para ahli.
2.1.1 Sikap Kant Terhadap Teologi
Berdasarkan buku yang ditulis oleh Immanuel Kant yang berjudul The Critique of Pure Reason, Kant menggambarkan adanya dampak dari filosofi yang pada dasarnya bersifat negatif terhadap disiplin ilmu teologi.[14] Selain itu, menurut buku the Critique of Pure Reason juga memutuskan segala akses terhadap segala jenis akses terhadap pengetahuan mengenai Tuhan, dan dengan cara tersebut, Kant tidak hanya menghancurkan dasar dari dogma metafisika, tapi juga dasar dari teologi yang bersifat positif.
2.1.2 Sudut Pandang Kant Terhadap Teologi
            Sudut pandang yang dimiliki oleh Immanuel Kant terhadap ilmu teologi adalah pemahamannya yang secara tradisonal yang juga kebanyakan bersifat agnostik terhadap eksistensi dan esensi terhadap Tuhan.[15] Meskipun Kant memiliki penolakan yang cukup kuat terhadap pengetahuan mengenai ketuhanan di dalam buku nya, konsep Tuhan selalu muncul di dalam analisis transendal Kant mengenai akal sebagai sebuah ide yang bersifat problematik namun juga memiliki signifikasi moral. Menurut Kant, akal manusia memiliki moral yang membutuhkan adanya keberadaan Tuhan, namun isi dari kepercayaan merupakan kepercayaan empiris yang tidak memiliki isi dan juga kosong.

3.1 Teologi Rasional
            Berdasarkan buku Religion and Rational.Theology, Kant menjabarkan mengenai teologi dan ilmu agama berdasarkan sudut pandang Rasional. Kant memahami adanya yang mahakuasa (supreme being) yang memiliki tiga posisi yang berbeda.[16] Ketiga posisi dan juga jabatan Tuhan menurut Kant tersebut memiliki tugas dan fungsi yang berbeda-beda, namun tetap saling mendukung. Posisi tersebut adalah sebagai berikut.

1. Pertama: Kesucian dari sang penulis dunia (author of the world), sebagai pemberi hukum (law giver) dan di dalam tindakannya sebagai oposisi terhadap kejahatan moral di dunia (opposition to the moral evil in the world).
2. Kedua: Dalam kemahakuasaannya (Godness), sebagai seorang yang berkuasa dan merawat dunia (ruler and preserver), yang kontras dengan penyakit yang dihadapi oleh makhluk hidup.
3.  Ketiga: Sebagai seorang hakim. Di dalam keadilan yang dimiliki olehnya, yang tentunya berbeda dan bertujuan untuk melawan terhadap kejahatan-kejahatan dan tindakan kriminal yang ada didunia.[17]

            Berdasarkan pemahaman Kant, ketiga posisi inilah yang dia percayai sebagai tugas Tuhan di dalam membantu kehidupan manusia. Kant menganggap bahwa akal manusia yang terbatas tidak akan bisa membuktikan adanya keberadaan Tuhan. Hal ini diatasi oleh Kant dengan cara memberikan idenya mengenai Tuhan sebagai sebuah symbol moral yang dibagi ke dalam tiga jenis tersebut.[18] Trinitas moral inilah yang menyebutkan dan mengkreditkan Tuhan sebagai pemberi hukum yang suci, penguasa yang baik secara moral, dan hakim yang adil.

C. PENUTUP
              Pembahasan secara singkat ini tentunya bisa diteliti secara lebih lanjut. Adapun isi dari tulisan ini hanya merupakan garis besar sederhana saja dan masih bisa dikembangkan lebih lanjut. Pemahaman selanjutnya mengenai Immanuel Kant tentunya sangat  menarik untuk dibahas. Terlebih lagi apabila teologinya dapat di kontekstualisasikan sesuai dengan sosial, politik, budaya bahkan teologi yang terdapat di Indonesia,

Fregata.



[1]Lili, Tjacjadi. Hukum Moral : Ajaran Immanuel Kant Tentang Etika dan Imperatif Kategoris, (Kanisius, Yogyakarta, 2015), 25.
[2] Lili, Tjacjadi. Hukum Moral : Ajaran Immanuel Kant.., 29.
[3] Paul Avis, Ambang Pintu Teologi, (BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2018), 2-3.
[4] Nico Syukur Dister, Pengantar Teologi, (Kanisius, Yogyakarta, 2017), 31-32.
[5] Nico Syukur Dister, Pengantar Teologi, 33.
[6] B. F. Drewes dan Julianus Mojau, Apa itu teologi? : Pengantar ke dalam ilmu Teologi, (BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2015), 16-17.
[7] Immanuel Kant, The Cambridge Edition of The Works of Imannuel Kant : Critique of Pure Reason, (Cambridge University Press,  New York USA, 1998), 583.
[8] Immanuel Kant, The Cambridge Edition.., 584-585.
[9] Immanuel Kant, The Cambridge Edition.., 585.
[10]  Immanuel Kant, The Cambridge Edition.., 586.
[11]  Christoper J. Insole, The Intolerable God: Kant's Theological Journey, (Wm. B. Eerdmans Publishing, Grand Rapids, Michigan, 2016), 17-18.
[12] Christoper J. Insole, The Intolerable God.., 19.
[13] Christoper J. Insole, The Intolerable God.., 20.
[14] Chris L. Firestone, Kant and Theology at the Boundaries of Reason, (Routledge, New York, 2016), 1.
[15] Chris L. Firestone, Kant and Theology.., 2-3.
[16] Immanuel Kant, The Cambridge Edition of The Works of Imannuel Kant : Religion and Rational Theology, (Cambridge University Press, New York USA, 1996), 24.
[17] Immanuel Kant, The Cambridge Edition.., 26.
[18]  Stephen Palmquist, "Kant's Perspectival Foundation for Critical Theology", Part Two of Kant's Critical Religion (Aldershot: Ashgate, 2000) 142.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Teologi Nasi Padang: Melihat Nasi Padang Sebagai Berkat Tuhan dari Perspektif Teologi Kristen

  oleh: Fregata "Hanya nasi Padang yang mengerti perasaanku" - Unknown - "AKU MAU NASI PADANG!!" - Sinetron Para...